KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA NO. : KEP. 155/MEN/1984 TENTANG PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI NOMOR KEP.125/MEN/82, TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN DAN TATA KERJA DEWAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA NASIONAL,

KEPUTUSAN
MENTERI TENAGA KERJA
NO. : KEP. 155/MEN/1984
TENTANG
PENYEMPURNAAN KEPUTUSAN
MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI
NOMOR KEP.125/MEN/82,
TENTANG PEMBENTUKAN, SUSUNAN DAN TATA KERJA
DEWAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA NASIONAL,
DEWAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA WILAYAH DAN
PANITIA PEMBINA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Menimbang :

a. Bahwa dalam rangka memantapkan landasan bagi peningkatan kegiatan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Dewan Keselamatan dan Kesehtan Kerja Wilayah dan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja dipandang perlu menyempurnakan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep. 125/Men/82, tanggal 16 Juli 1982;

b. bahwa penyempurnaan itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri

Mengingat :

1. Undang-undang No. 14 tahun 1969, tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja;

2. Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

3. Keputusan Presiden R.I. No.45/M/Tahun 1983 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan IV

4. Keputusan Presiden R.I. No. 15 tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen

5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 199/Men/1983 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

Menyempurnakan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep. 125/Men/82, tanggal 16 Juli 1982, sehingga menjadi sebagai berikut

Pasal 1

Nama dan Tempat Kedudukan

(1) Dewan  Keselamatan  dan  Kesehatan  Kerja  Nasional,  disingkat  DK3N,  bertempat kedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

(2) Dewan  Keselamatan  dan  Kesehatan  Kerja  Nasional  Wilayah,  disingkat  DK3W, bertempat kedudukan di Ibu Kota Propinsi yang bersangkutan.

(3) Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja di tempat kerja, disingkat P2K3, berkedudukan  di tempat kerja yang bersangkutan.

(1) Tugas pokok :

Pasal 2

Tugas Pokok dan Penunjang Operasional

a.   Tugas  pokok  DK3N  sebagai  suatu  badan  pembantu  di  tingkat  nasional  ialah memberikan  saran-saran  dan pertimbangan  baik diminta  maupun  tidak,  kepada Pemerintah cq. Menteri Tenaga Kerja, selanjutnya dalam Keputusan  ini disebut Menteri,     mengenai  masalah-masalah   di  bidang  keselamatan   dan  kesehatan kerja,serta   membantu   pembinaan   keselamatan   dan   kesehatan   kerja   secara nesional.

b.   Tugas  pokok  DK3W  sebagai  suatu  badan  pembantu  di  tingkat  propinsi  ialah memberikan  saran-saran dan pertimbangan,  baik diminta maupun tidak,  kepada pemerintah  di propinsi  cq. Kepala  Kantor  Wilayah  Departemen  Tenaga Kerja, selanjutnya dalam Keputusan ini disebut Ka.Kanwil, mengenai masalah-masalah di   bidang   keselamatan   dan   kesehatan   kerja   serta   membantu   pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja di propinsi tersebut.

c.   Tugas  pokok  P2K3  sebagai  suatu  badan  pembantu   di  tempat  kerja   ialah memberikan  saran-saran dan pertimbangan,  baik diminta maupun tidak,  kepada pengusaha/pengurus  tempat kerja yang bersangkutan mengenai masalah-masalah keselamatan dan kesehatan kerja.

(2) Fungsi

Untuk dapat melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pasal ini:

a.   DK3N berfungsi menghimpun dan mengolah segala data dan/atau permasalahan keselamatan  dan kesehatan kerja di tingkat nasional dan  propinsi-propinsi  yang bersangkutan  serta  membantu  Menteri  dalam:  membina  DK3W,  melaksanakan

penelitian, pendidikan, latihan, pengembangan  dan upaya memasyarakatkan  dan membudayakan keselamatan dan kesehatan kerja.

b.   DK3W berfungsi menghimpun dan mengolah segala data dan/atau permasalahan keselamatan dan kesehatan kerja di propinsi yang bersangkutan serta membantu Ka.Kanwil dalam membina P2K3.

c.   P2K3 berfungsi menghimpun  dan mengolah segala data dan/atau  permasalahan keselamatan    dan    kesehatan    kerja    yang    bersangkutan,    serta    membantu pengusaha/pengurus  tempat   kerja mengadakan serta  meningkatkan  penyuluhan, pengawasan,  latihan, dan penelitian keselamatan  dan kesehatan kerja di tempat kerja yang bersangkutan.

(3) Penunjang operasional

a.   Agar tugas pokok dan fungsinya dapat diselenggarakan seefektif mungkin, DK3N dapat membentuk dan atau menunjuk badan usaha non komersial yang melakukan kegiatan-kegiatan penyuluhan, penelitian, pendidikan, latihan, konsultasi dan lain- lain dibidang keselamatan dan kesehatan kerja.

b.   DK3N dan DK3W dapat membentuk komisi khusus untuk melaksanakan  tugas yang ditetapkan olehnya.

Pasal 3

Pembentukan, Susunan dan Tata Kerja

(1) Pembentukan dan susunan.

a.   DK3N dibentuk oleh Menteri dan terdiri dari seorang Ketua beberapa orang Wakil Ketua, seorang Sekretaris, seorang Wakil Sekretaris, masing-masing  merangkap anggota dan Anggota.

b.   DK3W  dibentuk  oleh  Direktur  Jenderal  Bina  Hubungan  Ketenagakerjaan  dan Pengawasan  Norma  Kerja,  selanjutnya  dalam  Keputusan  Menteri  ini  disebut Dirjen, dan terdiri dari seorang Ketua, dua orang Wakil Ketua, seorang Sekretaris, seorang Wakil Sekretaris, masing-masing merangkap anggota dan Anggota.

(2) Tata kerja.

a.   Hubungan  kerja antara DK3N dengan Menteri,  DK3W dengan Ka.Kanwil  dan P2K3 dengan pengusaha/pengurus tempat kerja yang bersifat menunjang.

b.   Hubungan kerja antara DK3N dengan DK3W dan DK3W dengan P2K3 bersifat koordinatif.

c.   Baik  DK3N  maupun  DK3W  dapat  mengadakan  kerja  sama  dengan   badan pemerintah/non Pemerintah lainnya.

Pasal 4

Keanggotaan

(1) a.   DK3N   beranggotakan   unsur-unsur   Pemerintah,   organisasi   buruh/karyawan, organisasi  pengusaha,  organisasi  profesi  dibidang  keselamatan  dan  kesehatan kerja dan badan-badan lain yang dianggap perlu.

b.   Anggota DK3N diangkat dan diberhentikan  oleh Menteri atas usul tertulis  dari instansi/badan/organisasi yang diwakilinya.

(2) a.   DK3W   beranggotakan   unsur-unsur   Pemerintah,   organisasi   buruh/karyawan, organisasi pengusaha, dan badan-badan lain yang dianggap perlu dan P2K3.

b.  Anggota  DK3W  diangkat  dan diberhentikan  oleh Dirjen atas usul tertulis  dari instansi/badan/organisasi   yang  diwakilinya  dan  yang  disampaikan  lewat  Ka. Kanwil.

(3) a.   P2K3  beranggotakan  unsur-unsur  organisasi  buruh/karyawan,  dan  pengusaha/ pengurus tempat kerja.

b.   Anggota P2K3 diangkat oleh pengusaha dan disahkan oleh Ka Kanwil.

Pasal 5

Tugas Kewajiban dan Hak Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris dan Anggota.

(1) Tugas ketua dan wakil ketua

a.  Tugas  DK3N,  DK3W,  dan  P2K3  memimpin   dan  mengkoordinasi   kegiatan Dewan/Panitia masing-masing.

b.   Dalam melaksanakan tugasnya Ketua dibantu oleh Wakil Ketua atau Wakil-Wakil Ketua.

c.   Apabila  Ketua  berhalangan,  tugasnya  dilaksanakan  oleh  salah  seorang  Wakil Ketua

(2) Tugas sekretaris dan wakil sekretaris

a.   Sekretris    DK3N,    DK3W    dan    P2K3    memimpin    dan    mengkoordinasi penyelenggaraan     tugas-tugas     Sekretariat     dan     melaksanakan     keputusan Dewan/Panitia, antara lain

–    menyiapkan     segala     sesuatu     yang     berhubungan     dengan     kegiatan Dewan/Panitia;

–    menyampaikan undangan rapat dan bahan rapat kepada anggota;

–    menyelenggarakan dokumentasi;

–    melakukan semua pekerjaan ketatausahaan;

–    mengelola kerumah-tanggaan Dewan/Panitia.

b.  Disamping   tugas  sebagaimana   tercantum  dalam  huruf  a,  Sekretaris   DK3N bertindak pula sebagai pejabat pelaksana harian dari tugas-tugas  eksekutif yang diserahkan kepada DK3N.

c.   Dalam melaksanakan tugasnya Sekretaris dibantu oleh Wakil Sekretaris.

d.   Apabila Sekretaris berhalangan tugasnya dilaksanakan oleh Wakil Sekretaris

(3) Tugas anggota ialah:

a.   Mengikuti rapat-rapat dan melakukan pembahasan atas persoalan yang  diajukan dalam rapat

b.   Melaksanakan tugas-tugas yang ditetapkan oleh Dewan/Panitia masing-masing.

(4) Setiap anggota berhak untuk mengusulkan diadakannya pembahasan dan tindak lanjut yang diperlukan  mengenai masalah-masalah  keselamatan  dan kesehatan  kerja yang dianggap perlu.

Pasal 6

Rapat-Rapat

(1) Rapat  DK3N  diadakan  sekurang-kurangnya  1  (satu)  kali  tiap  3  (tiga)  bulan  dan dipimpin oleh Ketua DK3N.

Apabila Ketua DK3N berhalangan memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh salah seorang  Wakil  Ketua.  Apabila  tidak  ada  salah  satu Wakil  Ketua   yang   dapat memimpin rapat, rapat dipimpin oleh Sekretaris DK3N.

(2) Rapat  DK3W  diadakan  sekurang-kurangnya  1  (satu)  kali  tiap  3  (tiga)  bulan  dan dipimpin oleh Ketua DK3W.

Apabila Ketua DK3W berhalangan memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh salah seorang  Wakil  Ketua.  Apabila  tidak  ada  salah  satu Wakil  Ketua   yang   dapat memimpin rapat, rapat dipimpin oleh Sekretaris DK3W.

(3) Rapat  P2K3  sekurang-kurangnya  diadakan  1  (satu)  kali  tiap  1  (satu)  bulan  dan dipimpin oleh Ketua P2K3. Apabila Ketua P2K3 berhalangan, rapat dipimpin oleh Sekretaris P2K3.

(4) DK3N dapat mengadakan rapat konsultasi dengan DK3W 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. DK3W dapat mengadakan rapat konsultasi dengan P2K3  1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

(5) Rapat yang diadakan DK3N, DK3W dan P2K3 adalah sah apabila dihadiri sekurang- kurangnya separuh tambah 1 (satu) dari jumlah anggota masing-masing.

(6) Keputusan dapat diambil dengan cara musyawarah untuk mencapai  mufakat.

Pasal 7

Pembiayaan

Dana yang diperlukan  untuk membiayai  pelaksanaan  tugas DK3N,  DK3W  dan  P2K3 diatur sebagai berikut:

a.   untuk DK3N diperoleh dari Departemen  Tenaga Kerja, dengan tidak   menutup kemungkinan bantuan dari Departemen Teknis serta sumber lain yang sah.

b.   Untuk DK3W diperoleh dari Departemen Tenaga Kerja, dengan tidak   menutup kemungkinan  bantuan dari Pemerintah  Daerah yang bersangkutan  serta sumber lain yang sah.

c.   Untuk P2K3 diperoleh dari perusahaan/instansi tempat kerja yang bersangkutan.

Pasal 8

Pertanggung Jawaban

(1) DK3N  wajib  melaporkan  kegiatan  yang  berkenaan  dengan  pasal  2  ayat  (3)  dan sumber   dana   serta   mempertanggung   jawabkan   penggunaan   dana   sebagaimana dimaksud pasal 7 huruf a, setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri.

(2) DK3W wajib melaporkan sumber dana dan mempertanggung jawabkan penggunaan dana sebagaimana dimaksud pasal 7 huruf b setiap 6 (enam) bulan kepada Menteri.

Pasal 9

Penutup

(1) Hal-hal yang belum diatur dalam Keputusan Menteri ini ditetapkan lebih lanjut oleh Dirjen.

(2) Ketentuan-ketentuan   yang   dikeluarkan   sebelum   ini  yang   tidak   sesuai   dengan Keputusan Menteri ini dinyatakan tidak berlaku. (3) Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan  di Jakarta

Pada tanggal 28 Juni 1984

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA

ttd.

SOEDOMO

Kami Butuh Bantuanmu

JIka ada kesalahan dalam penulisan lainnya silakan hubungi kami

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Yang lainnya