PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2017 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ELEVATOR DAN ESKALATOR

PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 6 TAHUN 2017

TENTANG

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ELEVATOR DAN ESKALATOR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang :

a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 2 ayat (2) huruf a dan huruf f dan Pasal 3 ayat (1) huruf a dan huruf nUndang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, perlu mengatur keselamatan dan kesehatan kerja elevator dan eskalator;

b. bahwa dengan perkembangan teknologidan pemenuhan syarat keselamatan dan kesehatan kerja elevator dan eskalator serta perkembangan peraturan perundang- undangan, perlu dilakukan penyempurnaan atas Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.03/MEN/1999 tentang Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift untuk Pengangkutan Orang dan Barang;

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Elevator dan Eskalator;

Mengingat      :  

1.    Undang-Undang    Nomor    3    Tahun    1951    tentang Pernyataan Berlakunya   Undang-Undang   Pengawasan Perburuhan                     Tahun   1948   Nomor   23   dari   Republik Indonesia untuk Seluruh Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 4);

2.    Undang-Undang    Nomor    1    Tahun    1970    tentang Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1918);

3.    Undang-Undang    Nomor    13    Tahun    2003    tentang Ketenagakerjaan   (LembaranNegara  Republik  Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);

4.    Undang-Undang    Nomor    21    Tahun    2003    tentang

Pengesahan ILOConvention No. 81 Concerning Labour Inspection  in  Industry  and  Commerce  (Konvensi  ILO Nomor 81 mengenai Pengawasan Ketenagakerjaan Dalam Industri dan Perdagangan) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4309);

5.    Peraturan  Pemerintah  Nomor  50  Tahun  2012  tentang Penerapan Sistem    Manajemen    Keselamatan    dan Kesehatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun  2012  Nomor  100,  Tambahan  Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5309);

6.    Peraturan  Presiden  Nomor  21  Tahun  2010  tentang Pengawasan Ketenagakerjaan;

7.    Peraturan  Presiden  Nomor  18  Tahun  2015  tentang Kementerian Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 15);

8.    Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 8 Tahun 2015 tentang Tata Cara Mempersiapkan Pembentukan Rancangan Undang-Undang,    Rancangan    Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Peraturan Presiden serta Pembentukan Rancangan Peraturan Menteri di Kementerian Ketenagakerjaan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 411);

9. Peraturan  Menteri  Ketenagakerjaan  Nomor  33  Tahun 2016  tentang  Tata  Cara  Pengawasan  Ketenagakerjaan (Berita  Negara  Republik  Indonesia  Tahun 2016 Nomor 1753);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan   :  PERATURAN    MENTERI    KETENAGAKERJAAN    TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ELEVATOR DAN ESKALATOR.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:

1.    Keselamatan  dan  Kesehatan  Kerja  yang  selanjutnya disingkat K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan Tenaga Kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

2.    Elevator adalah pesawatlift yang mempunyai kereta dan bobot imbang bergerak naik turun mengikuti rel-rel pemandu yang dipasang    secara permanen pada bangunan, memiliki governor dan digunakan untuk mengangkut orang dan/atau barang.

3.    Tali baja (wire rope) atau sabuk penggantung(belt)adalah sejumlah tali kawat baja yang dipilin yang merupakan untaian seperti tali tambang atau sabuk yang terdiri dari tali kawat baja yang dilapisi polyuretan atau sejenisnya yang digunakan untuk menarik kereta.

4.    Teromol  Penggerak  (traction  sheave)adalah  bagian  dari mesin Elevator berbentuk tabung (cylinder) atau roda katrol yang mempunyai alur untuk penempatan tali baja atau sabuk penggantung.

5.     Ruang Luncur (hoistway)adalah ruang tempatkereta dan bobot imbang bergerak yang dibatasi oleh Lekuk Dasar, dinding tegak lurus dan langit-langit.

6.    Lekuk Dasar (pit)Elevator adalah bagian Ruang Luncur yang berada di bawah lantai landas pemberhentian terbawah sampai pada dasar Ruang Luncur.

7.    Kereta  (elevator  cabin/car)  adalah  bagian  dari  elevator yang merupakan ruang tertutup (enclosure)  yang mempunyai lantai, dinding,   pintu   dan   atap   yang digunakan untuk mengangkut orang dan barang atau khusus barang.

8.    Governor adalah alat pengindera kecepatan lebih yang bekerja atas dasar gaya sentrifugal, berfungsi sebagai pemutus arus listrik dan menyebabkan rem pengaman kereta   bekerja   apabilakereta   dalam   keadaan   turun mengalami kecepatan yang lebih tinggi dari yang telah ditetapkan.

9.    Rem Pengaman Kereta (safety device)  adalah peralatan mekanik yang ditempatkan pada bagian bawah atau bagian atas dari kereta, bekerja untuk menghentikan elevator apabila terjadi kecepatan lebih dengan cara menjepit pada rel pemandu.

10.  Bobot Imbang (counterweight)adalah sejenis bandul guna mengimbangi berat kereta dan sebagian dari muatan, diikat pada ujung lain dari tali baja/sabuk penggantung.

11.  Rel  Pemandu  (guide  rail)adalah  batang  berbentuk  “T” khusus, yang dipasang permanen tegak lurus sepanjang Ruang  Luncur  untuk  memandu  jalannya  kereta  dan Bobot Imbang dan berguna untuk bekerjanya rem.

12.  Peredam (buffer)adalah alat untuk meredam tumbukan kereta atau Bobot Imbang guna menyerap tenaga tumbukan kereta atau Bobot Imbang, apabila kereta atau Bobot Imbang melewati batas yang sudah ditetapkan.

13. Eskalator  adalah pesawat transportasi untuk memindahkan orang dan/atau barang, mengikuti jalur lintasan rel yang digerakkan oleh motor listrik.

14.  Lekuk  Dasar  (pit) Eskalator  adalah ruang  bagian  bawah dari eskalator.

15.  Anak Tangga atau Palet adalah bagian dari eskalator yang bergerak membawa orang dan/atau   barang, disusun  berderet  dan  berangkai  satu  sama  lainnya dengan rantai yang merupakan rangkaian tidak terputus.

16.  Bidang Landas adalah bagian dari eskalator yang tidak bergerak pada kedua ujung yang merupakan tempat masuk dan keluar orang dan/atau barangdari Anak Tangga atau Palet.

17. Dinding Pelindung (Balustrade) adalah pasangan pelat dan/atau kaca disepanjang lintasan kiri dan kanan yang merupakan batas area pengangkutan.

18.  Pelindung  Bawah  (skirt  panel)  adalah  dinding  pelat penutup badan bagian dalam eskalator yang berada pada kedua sisi Anak Tangga atau Palet.

19.  Ban Pegangan adalah bagian yang bergerak yang mengikuti gerak Anak Tangga atau Palet yang berfungsi sebagai pegangan bagi orang.

20. Lintasan Luncur (void) adalah konstruksi bangunan permanen tempat dimana eskalator dipasang.

21.  Tempat Kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber bahaya, termasuk tempat kerja ialah semua ruangan,   lapangan,  halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut.

22.  Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik, Elevator, dan Eskalator yang selanjutnya disebut Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis adalah pengawas ketenagakerjaan yang mempunyai keahlian khusus di bidang K3 listrik, Elevator, dan Eskalatoryang berwenang untuk melakukan kegiatan pembinaan, pemeriksaan danpengujian listrik, Elevator dan Eskalator serta pengawasan, pembinaan, dan pengembangan sistem pengawasan ketenagakerjaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

23.  Pengusaha adalah:

a.     orang   perseorangan,   persekutuan,   atau   badan hukum yang menjalankan suatu Perusahaan milik sendiri;

b.    orang   perseorangan,   persekutuan,   atau   badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan Perusahaan bukan miliknya;

c.     orang   perseorangan,   persekutuan,   atau   badan hukum yang berada di Indonesia    mewakili Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.

24. Ahli   Keselamatan   dan   Kesehatan   Kerja   bidang Elevatordan Eskalator adalah yang selanjutnya disebut Ahli K3 bidang Elevator dan Eskalator adalah tenaga teknis  berkeahlian   khusus   dari   luar   instansi   yang membidangi  ketenagakerjaan  yangmempunyai  keahlian di bidang K3 Elevator dan Eskalator yang ditunjuk oleh Menteri     untuk     mengawasi     ditaatinya     peraturan perundang-undangan di bidang Elevator dan Eskalator.

25. Pengurus  adalah  orang  yang  mempunyai  tugas memimpin langsung suatu tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri.

26. Direktur  Jenderal  adalah  Direktur  Jenderal  yang membidangi pembinaan pengawasan ketenagakerjaan.

27.  Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang ketenagakerjaan.

Pasal 2

(1)   Pengurus dan/atau Pengusaha wajib menerapkan syarat K3 Elevator dan Eskalator.

(2)   Syarat   K3   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat   (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan  dan/atau  standar  di  bidang Elevator dan Eskalator.

(3)   Standar bidang Elevatordan Eskalator sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:

a. Standar Nasional Indonesia; dan/atau

b. Standar Internasional

Pasal 3

Pelaksanaan syarat K3 Elevator dan Eskalatorsebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 bertujuan:

a.    melindungi tenaga kerja dan orang lain yang berada di

Tempat Kerja dari potensi bahaya Elevator dan Eskalator; b.    menjamin dan memastikan Elevator dan Eskalatoryang aman, handal dan memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan bagi pengguna; dan

c.     menciptakan Tempat Kerja yang aman dan sehat untuk meningkatkan produktivitas.

BAB II RUANG LINGKUP

Pasal 4

Pelaksanaan syaratK3 Elevator dan Eskalatorsebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 meliputi kegiatan perencanaan, pembuatan,pemasangan, perakitan, pemakaian, perawatan, pemeliharaan, perbaikan,pemeriksaan,dan pengujian.

Pasal 5

(1)   Elevatorsebagaimana dimaksuddalam Pasal 4 meliputi:

a.    Elevator penumpang;

b.    Elevator panorama;

c.    Elevatorrumah tinggal;

d.    Elevator pelayanan (service);

e.    Elevator pasien;

f.     Elevator penanggulangan kebakaran (fire Elevator);

g.    Elevator disabilitas;

h.    Elevator miring(incline Elevator);

i.     Elevator barang; dan

j.     Elevator lainnya yang memenuhi Pasal 1 angka2.

(2)    Eskalator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 meliputi:

a. Eskalator yang memiliki sudut kemiringan 27,5 (dua puluh tujuh koma  lima)   derajatsampai   dengan 35(tiga puluh lima) derajatdan memiliki anak tangga;

b. Eskalator yang memiliki sudut 0 (nol) derajat sampai paling tinggi 12(dua belas) derajat dan memiliki palet (Travelator).

BAB III

SYARATKESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ELEVATOR DAN ESKALATOR

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 6

(1)   Syarat  K3  perencanaan  dan  pembuatan  Elevator  atau Eskalatorsebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 meliputi:

a.       pembuatan gambar rencana konstruksi dan instalasi listrik;

b.    persyaratan   dan   spesifikasi   teknis   bagian   dan perlengkapanElevatoratauEskalator;

c.    perhitungan teknis;

d.    pembuatan diagram panel pengendali;dan

e.     pemilihan dan penentuan bahan pada bagian utama Elevatoratau Eskalator harus memiliki tanda hasil pengujian dan/atau     sertifikat bahan yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang.

(2)   Syarat K3 pemasangan, perakitan, perawatan, perbaikan Elevator atau Eskalatorsebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 meliputi:

a.     pembuatan gambar rencana yang telah dinyatakan memenuhi persyaratan K3;

b.    pembuatan  dokumen  gambar  terpasang  (as  built drawing);

c.    pembuatan  rencana  Ruang  Luncur  atau  Lintasan Luncur, dankamar mesin;

d.       pemasangan bagian dan perlengkapan yang harus sesuai dengan perencanaan dan memiliki sertifikat dan/atau dinyatakan memenuhi persyaratan K3 dari lembaga berwenang;

e.     wajib   menggunakan   bagian   atau   perlengkapan Elevator atau Eskalator yang mempunyai spesifikasi yang sama atau setara dengan spesifikasi yang terpasang apabila perbaikan atau perawatan memerlukan penggantian bagian atau perlengkapan Elevator atau Eskalator;dan

f.        wajib membuat dan melaksanakan prosedur kerja aman

(3) Syarat K3 pemakaian Elevatoratau Eskalator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 meliputi:

a.    penyediaan prosedur pemakaian yang aman;

b.    pemakaian yang sesuai dengan jenis dan kapasitas;dan

c.    pemeliharaan untuk memastikan bagian dan perlengkapan Elevator atau Eskalator tetap berfungsi dengan aman.

Bagian Kedua

Elevator

Pasal 7

(1)   Persyaratan K3 Elevator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4dilaksanakan pada bagianElevatormeliputi:

a.    mesin;

b.    tali/sabuk penggantung;

c.    teromol;

d.    bangunan  Ruang  Luncur,  ruang  atas  dan  Lekuk Dasar;

e.    Kereta;

f.     Governor dan Rem Pengaman Kereta;

g.    Bobot Imbang, Rel Pemandu dan Peredam; dan

h.    instalasi listrik.

(2)   Bahan  dan  konstruksi  bagian  sebagaimana  dimaksud pada ayat (1) harus cukup kuat, tidak cacat dan aman serta sesuai dengan jenis dan peruntukannya.

(3)   BagianElevator  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) yang berasal dari luar negeri wajib memiliki keterangan spesifikasi yang memenuhi persyaratan K3 yang dibuktikan dengan sertifikat yang diterbitkan oleh lembaga atau instansi yang berwenang dari negara pembuat.

(4)   Spesifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.

Paragraf 1

Mesin

Pasal 8

(1)   Mesin  harus  dipasang  pada  dudukan  yang  kuat  dan permanen.

(2)   Mesin   harus   dilengkapi   dengan   rem   berupa   alat pengaman elektrik dan mekanik yang dilengkapi dengan saklar (brake switch)untuk menjamin dapat beroperasi dengan aman.

(3)   Apabila   Elevator   akan   bergerak,   rem   sebagaimana dimaksud pada   ayat   (2)   membuka   dengan   tenaga elektromagnet, pneumatik, atau hidrolik dan harus dapat memberhentikan mesin secara otomatis pada saat arus listrik putus.

Pasal 9

(1)   Elevator yang memiliki kamar mesin  harus memenuhi persyaratan:

a.    bangunan kamar mesin harus kuat, bebas air dan dibuat dari bahan tahan api paling singkat 1 (satu) jam;

b.    kamar   mesin   harus   mempunyai   ruang   bebas didepan alat pengendali paling kecil700 (tujuh ratus) milimeter,diantara  barang  bergerak  paling  sedikit 500 x 600 (lima ratus kali enam ratus) milimeter denganketinggianpaling rendah2100 (dua ribu seratus)   milimeter   dan/atau   mempunyai   ruang bebas  diatas  mesin  paling  kecil  500  (lima  ratus) milimeter;

c.     area kerja  dalam  kamar  mesin  harus  mempunyai penerangan paling rendah 100 (seratus)lux dan 50 (lima puluh)lux diantara area kerja;

d.    kamar mesin memiliki ventilasi atau berpendingin ruangan yang   cukup   sesuai   dengan   ketentuan peraturan perundang-undangan;

e.    pintu kamar mesin harus:

1)    membuka  arah  ke  luar  yangdilengkapi  kunci untuk membuka dari luar dan tanpa kunci untuk membuka dari dalam (panic door);

2)    terbuat dari bahan tahan api paling singkat1 (satu) jam; dan

3)    mempunyai  ukuran  lebar  paling  sedikit  750 (tujuh ratus lima puluh) milimeter dan tinggi paling rendah 2000 (dua ribu) milimeter.

f.     mesin, alat pengendali kerja dan panel hubung bagi listrik harus dipasang dalam kamar mesin;

g.     seluruh benda berputar dan peralatan listrik yang berbahaya di kamar mesin wajib terlindung dan diberikan tanda bahaya;

h.    lubang tali baja/sabuk penggantung dilantai kamar mesin diberikan pelindung setinggi 50 (lima puluh)milimeter;

i.     tangga   menuju   kamar   mesin   harus   dipasan permanen, dilengkapi dengan pagar pengaman dan tahan api;

j.     jika ada perbedaan ketinggian lantai dikamar mesin lebih dari 500 (lima ratus) milimeter  maka harus disediakan tangga dan pagar pengaman;dan

k.    setiap kamar mesin harus dilengkapi  dengan alat pemadam api ringan jenis kering dengan kapasitaspaling sedikit 5 (lima) kilogram.

(2)            Elevator yang tidak memiliki kamar mesin harus memenuhi persyaratan:

a.     panel hubung bagi listrik dan alat pengendali harus dipasang diluar Ruang Luncur Elevator;

b.    panel hubung bagi listrik harus dipasang pada lantai yang sama dengan alat pengendali kerja tidak lebih dari 5000 (lima ribu) millimeter;

c.     area kerja  dalam  kamar  mesin  harus  mempunyai penerangan paling rendah 100 (seratus) lux dan 50 (lima puluh)lux diantara area kerja;

d.    mempunyai peralatan pembuka rem mesin secara elektrik atau mekanis untuk evakuasi yang ditempatkan di dalam lemari pengendali atau lemari tersendiri dekat lemari pengendali;

e.     untuk peralatan pembuka rem secara elektrik, proses buka dan tutup rem secara bergantian sampai berhenti pada lantai pendaratan   harus bekerja secara otomatis meskipun tombol pembuka rem ditekan terus menerus;

f.     untuk  peralatan  pembuka  rem  secara  mekanis, harus tersedia indikasi penunjukkerataan Kereta dengan  lantai  pendaratan  dalam bentuk  lampu indikator atau indikator lain yang mudah dilihat;

g.     penyediaan  peralatan  tambahan  untuk  evakuasi pada saat Kereta dan Bobot Imbang pada posisi seimbang;dan

h.    penyediaan  alat  pemadam  api  ringan  jenis  kering dengan kapasitas paling sedikit 5 (lima) kilogramditempatkan dekat pintu Elevator paling atas.

(3)      Elevator   harus   dilengkapi   dengan   sakelar   darurat berwarna merah (emergencystop switch) dan dipasang dekat dengan panel pengendali.

Paragraf 2

Tali/Sabuk Penggantung

Pasal 10

(1)   Tali/sabuk penggantung Kereta harus kuat, luwes, tidak boleh terdapat sambungan dan mempunyai spesifikasi seragam.

(2)   Tali/sabuk      penggantung      Kereta      tidak      boleh menggunakan rantai.

(3)   Tali/sabuk penggantung Kereta harus mempunyai angka faktor keamanan untuk kecepatan sebagai berikut:

a.     20 (dua puluh) meter per menit sampai dengan 59 (lima puluh sembilan) meter per menit, paling sedikit8 (delapan) kali kapasitas angkut yang ditentukan;

b.    59 (lima puluh sembilan) meter per menit sampai dengan 104 (seratus empat) meter per menit, paling sedikit 9,5 (sembilan koma lima) kali kapasitas angkut yang ditentukan;

c.    105 (seratus lima) meter per menit sampai dengan 209 (dua ratus sembilan) meter per menit, paling sedikit10,5 (sepuluh koma lima) kali kapasitas angkut yang ditentukan;

d.    210  (dua  ratus  sepuluh)  meter  per  menit  sampai dengan 299 (dua ratus sembilan puluh sembilan) meter per menit, paling sedikit 11,5 (sebelas koma lima) kali kapasitas angkut yang ditentukan;dan

e.     300 (tiga ratus) meter per menit atau lebih, paling sedikit12 (dua belas) kali kapasitas angkut yang ditentukan.

(4)   Jika  menggunakanpenggantung  Kereta  jenis  tali,  tali mempunyai diameter paling kecil6 (enam) milimeter dan paling sedikit 3 (tiga) jalur, khusus untuk Elevatoryang tidak mempunyai  Bobot Imbang (tarikan gulung)paling sedikit 2 (dua) jalur.

(5)   Jika   menggunakanpenggantung   Kereta   jenis   sabuk, sabuk yang digunakan berukuran paling kecil 3 x 30 (tiga kali tiga puluh) milimeter, paling sedikit 2 (dua) jalur.

Pasal 11

Elevatoryang tidak mempunyai Bobot Imbang (tarikan gulung) harus dilengkapi dengan peralatan pengaman yang dapat memberhentikan  motor  penggerak  secara  otomatis,  apabila alat penggantung Kereta penarik menjadi kendur.

Paragraf 3

Teromol

Pasal 12

(1)   Setiap Teromol Penggerak harus diberi alur penempatan tali/sabuk penggantung Kereta untuk mencegah terjepit atau tergelincir dari gulungan Teromol Penggerak.

(2)   Perbandingan  antara  garis  tengah  Teromol  Penggerak dengan tali/sabuk   penggantung   Kereta   ditetapkan sebagai berikut:

a.     Elevator penumpang atau barang = 40 : 1 (empat puluh banding satu)

b.    Governor = 25 : 1 (dua puluh lima banding satu)

Paragraf 4

Bangunan Ruang Luncur, Ruang Atas, dan Lekuk Dasar

Pasal 13

(1)   Bangunan Ruang Luncur, ruang atas, dan Lekuk Dasar harus mempunyai konstruksi yang kuat, kokoh, tahan api dan tertutup rapat mulai dari lantai bawah Lekuk Dasar sampai bagian langit-langit Ruang Luncur, kecuali Elevator Panorama dan Elevator Miring.

(2)   Dinding  Ruang  Luncur,  ruang  atas  dan  Lekuk  Dasar ElevatorPanorama, lantai terbawah dan lantai yang dapat dilalui orang dengan ketinggian paling rendah 2000 (dua ribu) milimeter.

(3)   Landasan jalur KeretaElevator Miring (incline Elevator) harus  mempunyai  pondasi  yang  kuat,  tahan terhadap cuaca.

Pasal 14

(1)   Ruang Luncur, ruang atas, dan Lekuk Dasar harus selalu bersih, bebas dari instalasi atau peralatan yang bukan bagian dari instalasi Elevator.

(2)   Ruang Luncur harus tersedia penerangan yang cukup, paling sedikit 2 (dua) titik di langit-langit (overhead) dan bagian  bawah  Lekuk  Dasar  paling  rendah  100 (seratus)lux.

(3)   Ruang  Luncur,  ruang  atas  dan  Lekuk  Dasar  untuk ElevatorEkspres(non stop)harus dilengkapi dengan pintu darurat paling sedikit 1 (satu) buah pada setiap jarak paling jauh 11000 (sebelas ribu) milimeter, dengan tinggi ambang pintu paling jauh 300 (tiga ratus) milimeter dari level lantai.

(4)    Pintu darurat sebagaimana dimaksud pada ayat(3) harus terbuat dari bahan tahan api paling sedikit1 (satu) jam, berengsel, berukuran lebar 700 (tujuh ratus) milimeter dan tinggi 1400 (seribu empat ratus) milimeter atau lebih serta  hanya  dapat  dibuka  dari  dalam  Ruang  Luncur, ruang  atas,  dan  Lekuk  Dasar  atau  dari  Kereta  arah keluar.

(5)   Pintu darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dilengkapi dengan sakelar pengaman yang menjamin Kereta   tidak   bergerak   dan   melanjutkan   gerakannya kecuali  apabila  pintu  darurat  Ruang  Luncur  tertutup rapat dan terkunci dan hanya dapat dibuka dari dalam Ruang Luncur tanpa anak kunci atau dari luar Ruang Luncur dengan kunci.

(6)    Pintu darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak diperlukan   apabila  salah  satu  panel   dinding  Kereta samping dapat dibuka untuk keperluan evakuasi, untuk Ruang Luncur yang lebih dari 2 (dua) unit Elevator.

(7)   Apabila di dalam  Ruang Luncur terdapat jarak antara Kereta dan pintu darurat melebihi 350 (tiga ratus lima puluh)milimeter, harus   dilengkapi   jembatan   bantu dengan lebar paling kecil 500 (lima ratus)milimeterdan berpagar untuk tujuan evakuasi.

Pasal 15

(1)   Ruang atas harus mempunyai ruang bebas paling kecil

500 (lima ratus) milimeter antara Kereta dan langit-langit Ruang Luncur pada saat Bobot Imbang menekan penuh buffer.

(2)   Lekuk  Dasar  harus  mempunyai  ruang  bebas  paling kecil500 (lima ratus) milimeter, kecuali Elevator rumah tinggal paling kecil 300 (tiga ratus) milimeter.

(3)      Lekuk  Dasar  harus  dilengkapi  dengan  tangga  sampai kedasar pitdimulai dari 1000 (seribu)milimeter diatas lantai paling bawah atau pintu darurat.

(4)      Lekuk   Dasar   yang   berada   pada   salah   satu   lantai bangunan yang tidak langsung berhubungan dengan tanah, harus memenuhi syarat:

a.    kekuatan  struktur  lantai  tersebut  paling  sedikit

5000 N/m2(lima ribu newton per meter persegi);

b.    Bobot   Imbang   harus   dilengkapi   dengan   rem pengaman (safety gear);dan

c.     di bawah Lekuk Dasar tidak boleh digunakan untuk Tempat Kerja dan/atau penyimpanan barang yang mudah meledak atau terbakar, kecuali 2 (dua) lantai dibawah Lekuk Dasar atau lebih.

(5)   Akses menuju ke Lekuk Dasar harus disediakan 2 (dua) saklar  pengaman  (pit  switch)  yang  dipasang  didalam Ruang Luncur dengan ketinggian 1500 (seribu lima ratus) milimeter dari ambang pintu Elevator paling bawah dan mudah  dijangkau  dan  500  (lima  ratus)  milimeterdari lantai pit.

(6)   Lekuk Dasar antara 2 (dua) Elevator yang bersebelahan harus diberi pengaman berupa sekat (pit screen) mulai dari ketinggian 300 (tiga ratus) milimeter dari dasar pit, sampai dengan 3000 (tiga ribu)milimeter ke atas.

Pasal 16

(1)   Daun pintu Ruang Luncur harus dibuat dari bahan tahan api paling singkat1 (satu) jam dan dapat menutup rapat.

(2)   Pintu penutup Ruang Luncur harus dilengkapi dengan kunci kait (interlock)  dan saklar pengaman yang menjamin:

a.     Kereta tidak bergerak dan melanjutkan gerakannya kecuali apabila pintu penutup Ruang Luncur tertutup rapat dan terkunci;

b.    dalam kondisi normal(auto),pintu hanya dapat terbuka jikaKereta dalam keadaan berhenti penuh dalam zona lantai pemberhentian.

(3)   Pintu dapat terbuka jika Kereta sama rata dengan lantai pemberhentian,   pada  kondisi   normaldengan  toleransi beda kerataan lantai Kereta dengan lantai pemberhentian tidak boleh lebih dari 10 (sepuluh) milimeter.

Pasal 17

(1) Pada Ruang Luncur yang berisi lebih dari 1 (satu)Kereta dan mempunyai jarak antar Kereta paling jauh 500 (lima ratus)milimeter    harus   dilengkapi    pengaman   berupa sekat(hoistway   screen)   yang   dipasang   secara   penuh sepanjang Ruang Luncur.

(2)   UntukElevatorMiring  (Incline  Elevator)  harus  dilengkapi tangga sepanjang rel.

Paragraf 5

Kereta

Pasal 18

(1)   Rangka Kereta harus terbuat dari baja dan kuat dapat menahan beban akibat pengoperasian Elevator, bekerjanya pesawat pengaman serta tumbukan antara Kereta dengan Peredam.

(2)   Badan  Kereta  harus  tertutup  rapat  dan  mempunyai pintu.

(3)    Tinggi dinding Kereta harus paling rendah2000 (dua ribu) millimeter.

(4)    Luas lantai Kereta harus memenuhi persyaratan:

a.     kecuali Elevator pasien dan Elevator barang, luas lantai    Kereta    harus    sesuai    dengan    jumlah penumpang  atau   beban   dan   perbandingannya tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini;

b.    luas Kereta Elevator sebagaimana dimaksud dalam huruf  a,  dapat  diperluas  paling  besar  6  %(enam persen) untuk Elevatorpasien dan paling besar 14 % (empat belas persen) untuk Elevator Barang.

Pasal 19

(1)   Kereta  Elevator  harus  dilengkapi  dengan  pintu  yang kokoh, aman, bekerja otomatis, kecuali Elevatorrumah tinggal dan Elevator barang.

(2)      Pintu Keretasebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan:

a.    ukuran paling kecil 700 (tujuh ratus) milimeter x 2000 (dua ribu) milimeter;

b.    dilengkapi kunci kait dan saklar pengaman; dan

c.     celah antara ambang pintu Kereta dan ambang pintu Ruang Luncur berukuran 28 (dua puluh delapan) sampai dengan 32 (tiga puluh dua) milimeter.

(3)      Sisi Kereta bagian luar dengan balok pemisah (separator beam) Ruang Luncur mempunyai celah paling sedikit 250 (dua ratus lima puluh) milimeter atau lebih.

Pasal 20

(1)   Elevatordilengkapi dengan peralatan tanda bahaya alarm bel dengan sumber tenaga cadangan dan intercom yang dipasang  pada  lantai  tertentu  dan  dapat  dioperasikan dari dalam Kereta.

(2)   Selain peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)Kereta Elevator harus dilengkapi dengan:

a.     ventilasi paling kecil 1% (satu persen) dari luas Kereta dan  penerangan  paling  rendah  50  (lima puluh) lux;

b.    penerangan  darurat  paling  sedikit  5  (lima)  lux selama 30 (tiga puluh) menit;

c.    panel operasi; dan

d.    petunjuk posisi Kereta pada lantai tertentu.

(3)   Panel operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c, meliputi:

a.    nama pembuat atau merk dagang kecuali jika diatur sendiri;

b.    kapasitas beban puncak dalam satuan kilogram atau orang;

c.     rambu dilarang merokok dan petunjuk lainnya bagi pemakai;

d.    indikasi  beban  lebih  dengan  tulisan  dan  signal visual;

e.    tombol pintu buka dan pintu tutup;

f.     tombol permintaan lantai pemberhentian;

g.    tombol bel alarm dan tanda bahaya;dan

h.    intercom komunikasi dua arah.

Pasal 21

(1)   Atap Kereta harus kuat menahan berat peralatan dan beban paling sedikit200 (dua ratus) kilogram.

(2)   Atap  Kereta  harus  dilengkapi  pintu  darurat  dengan persyaratan:

a.     berengsel, dilengkapi dengan saklar pengaman dan dapat   dibuka  dari  luar  Kereta  dengan  menarik pegangan tangan tanpa terkunci;

b.    tidak  mengganggu  bagian  instalasi  di  atas  atap Kereta sewaktu dibuka; dan

c.    mempunyai ukuran lebar paling kecil lebar 350 x 450 (tiga ratus lima puluh kali empat ratus lima puluh) milimeter.

(3)   Pintu  darurat  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (2) apabila dipasang pada dinding samping Kereta harus memenuhi persyaratan:

a.    berengsel;

b.    dengan  ukuran  lebar  paling  kecil  350  (tiga  ratus lima puluh) millimeter dan tinggi paling rendah 1800 (seribu delapan ratus) milimeter;

c.     dapat dibuka dari luar Kereta tanpa kunci atau dari dalam Kereta dengan kunci khusus;

d.    dilengkapi   saklar   pengaman   dan   dihubungkan dengan rangkaian pengendali yang berfungsi untuk menghentikan Elevator apabila pintu darurat dalam keadaan terbuka; dan

e.     dipasang  pegangan  tangan  permanen  dan  dicat warna kuning.

(4)   Atap Kereta harus dilengkapi pagar pengaman permanen berkekuatan 90  (sembilan  puluh)  kilogramdan  dicat warna kuning.

(5)   Ukuran  pagar  pengaman  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (4) dengan ketentuan:

a.    untuk celah antara Kereta dengan dinding antara 300 (tiga ratus) milimeter sampai dengan 850 (delapan ratus lima puluh) millimeter,tinggi pagar pengaman paling sedikit 700 (tujuh ratus) milimeter;dan

b.    untuk celah antara Kereta dengan dinding lebih dari 850  (delapan  ratus  lima  puluh)  milimeter,  tinggi pagar pengaman paling sedikit 1100 (seribu seratus) milimeter.

(6)   Di atas atap Kereta dipasang:

a.     lampu paling rendah 100 (seratus) luxdengan kabel lentur paling pendek 2000 (dua ribu) millimeter; dan

b.    tombol pengoperasian manual di atas atap Kereta dipasang permanen  dan  memiliki  tombol  utama (common), naik, turun dan berhenti.

Pasal 22

Interior di dalam Kereta harus memenuhi persyaratan:

a.     terbuat dari bahan yang tidak mudah pecah dan tidak membahayakan;

b.    tidak menganggu penggunaan pintu darurat pada atap dan perlengkapan di dalam Kereta; dan

c.    harus memperhitungkan faktor keamanan dan kapasitas motor.

Paragraf 6

Governor dan Rem Pengaman Kereta

Pasal 23

(1)   Elevatorharus dilengkapi dengan sebuah Governor yang mempunyai penjepit tali/sabuk Governor untuk memicu bekerjanya Rem Pengaman Kereta jika terjadi kecepatan lebih.

(2)   Governor yang dimaksud pada ayat (1) harus dilengkapi sakelar yang dapat memutuskan aliran listrik ke mesin sesaat sebelum Rem Pengaman Kereta bekerja.

(3)    Rem Pengaman Kereta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus   bekerja   pada   saat   Governor    mencapai persentase kecepatan Elevator 115%(seratus  lima belas persen)         sampai  dengan  140%  (seratus   empat   puluh persen)dari kecepatan nominal.

(4)    Pada saat Rem Pengaman Kereta bekerja, Kereta harus berhenti secara bertahap.

Pasal 24

(1)   Rem pengaman wajib dipasang pada Kereta Elevator.

(2)   Rem  pengaman  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) harus yang dapat memberhentikan Kereta dengan beban penuh apabila terjadi kecepatan lebih atau goncangan atau tali/sabuk penggantung Kereta putus.

(3)   Rem Pengaman Kereta terdiri atas:

a.    rem pengaman kerja berangsur (progressive); dan

b.    rem pengaman kerja mendadak (instantaneous).

(4)   Rem Pengaman Kereta sebagaimana dimaksud pada ayat (3)  tidak  boleh  menggunakan  sistem  elektris,  hidrolis atau pneumatis.

(5)   Rem  Pengaman  Kereta  kerja  berangsur  (progressive) sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3)  huruf  a  hanya boleh dipergunakan untuk Elevator dengan kecepatan 60 (enam puluh) meter per menit atau lebih.

(6)   Rem pengaman Kereta kerja mendadak (instantaneous) sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (3)  huruf  b  hanya boleh dipergunakan untuk Elevator dengan kecepatan kurang dari 60 (enam puluh) meter per menit.

Pasal 25

(1)            Rem  pengaman  tidak  boleh  bekerja  untuk  pergerakan Kereta ke atas, kecuali jika dipasang rem pengaman khusus.

(2)      Rem pengaman lebih dari 1 (satu) pasang dengan 1 (satu) Governor maka harus dipergunakan jenis sama dan bekerja secara serempak.

(3)      Elevator dengan kecepatan 60 (enam puluh) meter per menit atau lebih harus mempunyai alat pemutus kontak elektris untuk menghentikan motor penggerak sesaat sebelum rem pengaman bekerja.

Pasal 26

Elevator harus dilengkapi dengan:

(1)   Sakelar pengaman lintas batas (travel limit switch) untuk memberhentikan mesin secara otomatis sebelum Kereta atau Bobot Imbang mencapai batas perjalanan terakhir ke atas dan ke bawah.

(2)   Alat pembatas beban lebih (overload limit switch) untuk memberi tanda peringatan dan Elevator tidak dapat berjalan bila beban melebihi kapasitas yang ditentukan.

Paragraf 7

Bobot Imbang, Rel Pemandu, dan Peredam

Pasal 27

(1)   Bobot Imbang dibuat dari bagian balok atau lempengan logam atau dari beton bertulang.

(2)   Area di lintasan Bobot Imbang pada Lekuk Dasar harus diberi sekat pengaman(Counterweight Screen)dengan ketinggian  mulai  dari  300  (tiga  ratus)  millimeter  dari lantai Lekuk Dasar setinggi 2500 (dua ribu lima ratus) milimeter.

(3)   Sekat pengaman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dipasang mengelilingi Bobot Imbang apabila ada celah lebih dari 300 (tiga ratus )milimeter.

Pasal 28

(1)   Rel Pemandu Kereta dan Bobot Imbang harus kuat untuk memandu jalannya kereta dan Bobot Imbang dapat menahan getaran.

(2)   Rel Pemandu Kereta dan Bobot Imbang harus kuat untuk menahan beban tekanan Kereta dalam beban penuh dan Bobot Imbang pada saat Rem Pengaman Kereta bekerja.

Pasal 29

(1)   Bobot Imbang dan Kereta dilengkapi dengan Peredam dan ditempatkan pada Lekuk Dasar.

(2)   Peredam  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1)  harus dapat meredam   Kereta   dan   Bobot   Imbang   secara bertahap.

(3)   Peredam atau penyangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari jenis masif kenyal, pegas dan hidrolik.

(4)   Jenis Peredam atau penyangga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) penggunaannya disesuaikankecepatan Kereta dan Bobot Imbang.

(5)   Peredam untuk Elevator dengan kecepatan paling sedikit 90 (sembilan puluh) meter per menit harus dilengkapi dengan saklar pengaman.

Paragraf 8

Instalasi Listrik

Pasal 30

(1)   Rangkaian,  pengamanan  dan  pelayanan  listrik  harus sesuai  dengan    ketentuan    peraturan    perundang- undangan.

(2)   Sumber  daya  listrik  yang  digunakan  untuk  elevator harus berasal dari panel tersendiri.

(3)   Sumber daya listrik untuk perlengkapan lain yang bukan bagian dari Elevator tidak boleh berasal dari panel listrik Elevator.

(4)   Catu  daya  pengganti  listrik  otomatis  atau  Automatic Rescue Device atau Un interupted Power Supply wajib dipasang sehingga dapat mengoperasikan Elevator untuk pendaratan  darurat  pada  saat  pasokan  listrik  utama tidak berfungsi.

(5)   Tahanan pembumian elevatorpaling besar 5 (lima) Ohm pada  sub  panel  daya  Elevator  dengan  ukuran  kabel paling kecil 10 (sepuluh) millimeter persegi.

Pasal 31

(1)   Bangunan   yang   memiliki   instalasi   proteksi   alarm kebakaran otomatik    maka    instalasi    alarm    harus dihubungkan dengan instalasi listrik Elevator.

(2)   Pada  kondisi  terjadi  kebakaran,  Kereta  Elevator harus dapat beroperasi  secara  otomatis  menuju  ke  lantai evakuasi dan tidak melayani panggilan.

Paragraf 9

Elevator Penanggulangan Kebakaran

Pasal 32

Dalam hal Elevator digunakan juga sebagai Elevator penanggulangan kebakaran, Elevator tersebut selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 31 juga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a.     memiliki   cadangan   daya   listrik   yang   selalu   dapat dioperasikan sewaktu-waktu dan harus memiliki sub panel listrik yang terpisah;

b.    hanya dapat dioperasikan petugas pemadam kebakaran dengan pengoperasian  khusus  secara  manual  dalam Kereta dandapat berhenti disetiap lantai;

c.     dilantai evakuasi   harus   dilengkapi   dengan   saklar kebakaran yang dioperasikan secara manual;

d.    dipasang   label   bertulisan   “Elevator   Penanggulangan Kebakaran” pada   lobi   utama   yang   menjadi   lantai evakuasi;

e.    instalasi listrik harus mempunyai ketahanan api paling singkat 2 (dua) jam;

f.     dinding Ruang Luncur harus tertutup rapat dan tahan api selama 1 (satu) jam;

g.     Kereta  berukuran  paling  kecil  1100  (seribu  seratus) milimeter x 1400 (seribu empat ratus) milimeter dan kapasitas angkut paling sedikit 630 (enam ratus tiga puluh)kilogram;

h.    pintu Kereta berukuran paling kecil 800 (delapan ratus) milimeter x 2100 (dua ribu seratus) milimeter;

i.     waktu tempuh dari lantai teratas sampai lantai evakuasi paling lama 60 (enam puluh) detik;dan

j.     pada lantai evakuasi, akses menuju Elevator penanggulangan kebakaran tidak boleh terhalang.

Paragraf 10

Elevator Disabilitas

Pasal 33

Dalam hal Elevator digunakan oleh orang penyandang disabilitas, Elevator tersebut selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dimaksud dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 31, juga harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a.    panel  operasi  khusus  untuk  penyandang  disabilitas dengan  mengunakan  huruf  braille  dipasang  didalam Kereta dan dipintu lantai;

b.    tinggi  panel  operasi  900  (sembilan  ratus)  milimeter sampai dengan 1100 (seribu seratus) milimeter;

c.     pada  saat  panel  disabilitas  diaktifkan,  waktu  bukaan pintu paling cepat 2 (dua) menit;

d.    ukuran  lebar  bukaan  pintu  Kereta  paling  kecil  1000 (seribu) milimeter atau mempunyai 2 (dua) sisi pintu Kereta jika lebar bukaan paling kecil 800 (delapan ratus) milimeter;

e.    informasi operasi melalui suara;dan

f.     dipasang label bertulisan “ElevatorDisabilitas”.

Pasal 34

(1)   Elevator yang melayani lebih dari 10 (sepuluh) lantai atau 40 (empat puluh) meter harus dilengkapi dengan sensor gempa yang dipasang pada strukur bangunan.

(2)   Input signal sensor gempa harus dapat memberhentikan Elevator ke posisi lantai terdekat, pintu Kereta dan pintu luar terbuka, dan Elevator tidak dapat dioperasikan.

(3)    Apabila sensor gempa berfungsi akibat adanya gempa, Elevator hanya dapat dioperasikan setelah diperiksa dan dinyatakan aman oleh personil K3.

Bagian Ketiga

Eskalator

Paragraf 1

Umum

Pasal 35

(1)   Persyaratan K3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dilaksanakan pada bagianEskalator meliputi:

a.    kerangka, ruang mesin, dan Lekuk Dasar (pit);

b.    peralatan penggerak; c.    anak tangga &palet; d.    bidang landas;

e.    pagar pelindung;

f.     Ban Pegangan;

g.    Lintasan Luncur (void);

h.    peralatan pengaman; dan

i.     instalasi listrik.

(2)   Bahan  dan  konstruksi  bagian  sebagaimana  dimaksud pada ayat (1) harus cukup kuat, tidak cacat, aman dan sesuai dengan jenis dan peruntukannya.

(3)   BagianEskalatorsebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) yang berasal dari luar negeri wajib memiliki keterangan spesifikasi yang memenuhi persyaratan K3 yang dibuktikan melalui sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga atau instansi yang berwenang dari negara pembuat.

(4)    Spesifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus memenuhi   ketentuan  peraturan   perundang-undangan dan/atau standar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.

Paragraf 2

Kerangka, Ruang Mesin, dan Lekuk Dasar (Pit)

Pasal36

(1)   Rangka struktur Eskalatorterbuat dari baja profil yang kokoh dan kaku, dan ditopang pada kedua ujung oleh balok beton bangunan.

(2)   Seluruh badan kerangka Eskalator harus ditutup dengan bahan yang tidak mudah pecah dan tahan terhadap tekanan paling  sedikit  30(tiga  puluh)  kilogram  pada bidang luas 10 cm² (sepuluh centimeter persegi).

(3)   Kerangka Eskalator harus ditopang paling sedikit pada dua balok pendukung ujung atas dan ujung bawah dari konstruksi bangunan.

(4)   Balok pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dilapisi karet Peredam yang dapat menghilangkan getaran yang dapat merambat pada struktur bangunan

(5)   Eskalator dengan tinggi kerja vertikal lebih dari 6 (enam) meter, perlu tambahan pendukung pada bagian tengah kerangka, kecuali dirancang khusus dengan perhitungan lendutan (defleksi) paling tinggi 0,1% (nol koma satu persen).

(6)   Dalam hal kerangka terdiri dari 2 (dua) bagian atau lebih harus  disambung  dengan  beberapa  baut  penyambung atau pasak tipe 10,9 (sepuluh koma sembilan) yang mempunyai kekuatan torsi antara 27 (dua puluh tujuh) sampai  dengan  88  (delapan  puluh  delapan) kilogrammeter.

(7)   Faktor keamanan konstruksi bagian Eskalatorpaling sedikit 2,5 (dua koma lima) kali beban puncak.

Pasal37

(1)   Ruang mesin dan Lekuk Dasar harus mempunyai ukuran paling kecil 0,3 m2(nol koma tiga meter persegi) dan salah satu sisinya harus lebih dari 500 (lima ratus)millimeter.

(2)   Dalam hal sisi ruang mesin dan Lekuk Dasar kurang dari 500 (lima ratus) millimeter,harus dilengkapi alat sensor pengaman batas (safety light barrier).

(3)   Ruang   mesin   dan   Lekuk   Dasar   harus   mempunyai penerangan paling rendah 100 (seratus) lux  dan dilengkapi dengan jalan masuk yang aman.

Paragraf 3

Peralatan penggerak

Pasal38

Peralatan penggerak terdiri dari mesin, roda bergigi, rantai atau sabuk transmisi dan rantai penarik anak tangga.

Pasal 39

(1)   Satu mesin dilarang untuk menggerakkan 2 (dua) atau lebih Eskalator.

(2)   Setiap Eskalator harus dilengkapi dengan sistem elektro mekanis yang   bekerja   secara   otomatis   yang   dapat menghentikan Eskalator apabila sumber tenaga listrik putus.

(3)   Eskalator dengan sudut kemiringan kurang dari 30 (tiga puluh) derajat kecepatannya paling tinggi 0,75 (nol koma tujuh puluh lima) meter per detik, dan untuk Eskalator dengan sudut kemiringan 30 (tiga puluh) sampai dengan 35 (tiga puluh lima) derajat kecepatannya paling tinggi 0,5 (nol koma lima) meter per detik.

(4)   Kecepatan  Eskalator  yang  memiliki  palet  (travelator) paling tinggi 0,75 (nol koma tujuh lima) meter per detik. (5)   Kecepatan Eskalator sebagaimana dimaksud pada ayat

(4)  dapat  ditingkatkan  sampai  paling  tinggi  0,90  (nol koma sembilan puluh) meter per detik harus memenuhi persyaratan:

a.    lebar  palet  tidak  melebihi  1100  (seribu  seratus) milimeter;dan

b.    palet  bergerak  horisontal  paling  sedikit  sepanjang 1600(seribu enam ratus) milimeter sebelum masuk pada pelat sisir.

(6)   Pengaturan  pergerakan  Eskalator  dapat  menggunakan penambahan alat pengatur kecepatan (variable speed device)

(7)   Jarak  pemberhentian  Eskalator  pada  saat  daya  listrik putus atau peralatan pengaman listrik putus ditetapkan: a. kecepatan  0,50  (nol  koma  lima)  meter  per  detik paling rendah 200 (dua ratus) milimeter danpaling tinggi 1000 (seribu) milimeter;

b.    kecepatan 0,65 (nol koma enam puluh lima) meter per detik paling rendah 300 (tiga ratus) milimeter danpaling tinggi 1300 (seribu tiga ratus) milimeter;

c.     kecepatan 0,75 (nol koma tujuh puluh lima) meter per detik paling rendah 350 (tiga ratus lima puluh) milimeter dan paling tinggi 1500 (seribu lima ratus) milimeter;dan

d.    kecepatan 0,90 (nol koma sembilan puluh) meter per detik paling rendah 550 (lima ratus lima puluh) milimeter dan paling tinggi 1700 (seribu tujuh ratus) milimeter.

Pasal40

(1)   Rantai atau sabuk transmisi dan rantai penarik dari jenis rol atau engsel (roller chain) dengan kepingan mata rantai harus terbuat dari plat baja yang dikeling.

(2)   Kekuatan   batas   patah   rantai   transmisi   dan   rantai penarik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling kecil140 (seratus empat puluh) kilogram tiap lembar rantai.

Paragraf 4

Anak Tangga atauPalet

Pasal41

(1)    Anak Tangga atau Palet dapat terbuat dari plat baja, baja tuang yang dianeling atau aluminium.

(2)    Anak  Tangga  mempunyai  ukuranlebar  (depth)  paling sedikit  400  (empat  ratus)  milimeter,  panjang  (width) paling sedikit 560 (lima ratus enam puluh) milimeter, dan tinggi  paling   tinggi   240   (dua   ratus   empat   puluh) milimeter.

(3)    Palet mempunyai ukuran lebar (depth)paling sedikit 150 (seratus lima puluh) milimeter, panjang (width) paling sedikit 560 (lima ratus enam puluh) milimeter, dan tebal paling sedikit 20 (dua puluh) milimeter.

(4)    Permukaan Anak Tangga atau Palet terbuat dari bahan yang padat, rata, tidak licin, dan mempunyai kisi-kisi dengan tebal paling kecil 3 (tiga) milimeter.

(5)    Setiap  satuan  Anak  Tangga  atau  Palet  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat menahan beban paling  sedikit  0,057 kg/cm2(nol  koma  nol  lima  puluh tujuh kilogram per centimeter persegi).

(6)    Kerataan  Anak  Tangga  sebelum  masuk  atau  setelah keluar  dari  plat  sisir  paling  kecil  600  (enam  ratus) milimeter.

(7)    Eskalator harus dilengkapi sikat pengaman (skirt brush) sepanjang Pelindung Bawah.

(8)    Setiap  Anak  Tangga  atau  Palet  harus  mempunyai  4 (empat) buah roda atau 2 (dua) pasang roda dalam keadaan baik, tidak pecah dan berjalan melalui rel jalur lintas tersendiri yang posisinya sejajar.

(9)    Rel  jalur  lintas  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (8) harus terbuat dari pelat baja dan dilengkapi dengan alat pengaman untuk mencegah terjadinya loncatan Anak Tangga atau Palet jika rantai putus.

(10)  Eskalator tidak boleh dioperasikan apabila terdapat Anak

Tangga atau Palet retak.

Paragraf 5

Bidang Landas

Pasal 42

(1)   Bidang Landas Eskalator meliputi pelat pendaratan dan pelat sisir yang harus dipasang berderet yang dikencangkan dengan sekrup.

(2)   Gigi pada pelat sisir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dapat masuk dalam alur Anak Tangga atau Palet dan terbuat dari bahan yang mudah patah apabila terjadi benturan.

(3)   Eskalator tidak diperbolehkan dioperasikan apabila gigi sisir yang mengalami patah paling banyak 2 (dua) buah dan sejajar.

(4)   Bidang Landas dan permukaan lantai bangunan harus rata atau terdapat perbedaan ketinggian paling tinggi 7 (tujuh) milimeter.

(5)   Penutup Bidang Landas harus terbuat dari bahan yang kuat dan tidak licin.

(6)   Penutup   Bidang   Landas   harus   dilengkapi   sakelar pemutus untuk menghentikan Eskalator jika penutup Bidang Landas terbuka.

(7)   Bidang  Landas  keluar  dan  masuk  harus  memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a.     mempunyai  ruang  bebas  dengan  ukuran  paling sedikit 160 (seratus enam puluh) milimeter dari sisi terluar  Ban  Pegangan  dan  panjang  paling  sedikit 2500 (dua ribu lima ratus) milimeter; atau

b.    jika panjang Bidang Landas paling besar 2000 (dua ribu) milimeter, lebar ruang bebas 2 (dua) kali lebar luar Ban Pegangan ditambah 160 (seratus enam puluh) milimeter.

Paragraf 6

Pagar Pelindung

Pasal 43

(1)   Pagar Pelindung terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu:

a.    Pelindung samping (balustrade); dan b.    Pelindung bawah (skirt panel).

(2)    Pagar  Pelindung  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) harus dipasang pada kedua sisi Eskalator disepanjang lintasan.

(3)    Tinggi pelindung samping harus mempunyai tinggi yang sama, paling  rendah  750  (tujuh  ratus   lima   puluh) milimeter dan   paling   tinggi   1100   (seribu   seratus) milimeter.

(4)    Pelindung   samping   dapat   menggunakan   plat,   kaca tempered (tempered glass) atau bahan lain yang apabila pecah tidak membahayakan.

(5)      Pelindung samping sebagaimana dimaksud pada ayat (3) mempunyai distribusi kekuatan tekanan  samping paling sedikit58,5                     kg/m   (lima   puluh   delapan   koma   lima kilogram per meter) dan tekanan vertikalpaling sedikit 73 kg/m(tujuh puluh tiga kilogram per meter).

(6)      Bagian  kedua  ujung  pelindung  samping  harus  cukup menjorok keluar sampai Bidang Landas.

(7)   Pelindung   bawah   harus   terbuat   dari   bahan   tahan benturan,  tahan  gesekan,  permukaan  licin  dan  tidak mudah aus.

(8)   Kelenturan Pelindung Bawah tidak lebih dari 4 (empat) millimeter jika diberi tekanan 50 (lima puluh) kilogram.

(9)      Celah  antara  Anak  Tangga  atau  Palet  dan  Pelindung Bawahpaling besar 4 (empat) milimeter dan jumlah jarak antar keduanya paling besar 7 (tujuh) milimeter.

Paragraf 7

Ban Pegangan

Pasal 44

(1)   Ban Pegangan harus kuat, tidak cacat dan terbuat dari karet vulkanisir berkanvas diperkuat sejumlah tali baja atau plat baja yang ditanam dalam Ban Pegangan.

(2)   Kecepatan Ban Pegangan harus sama dan searah dengan Anak Tangga atau Palet.

(3)   Dalam  hal  terjadi  perbedaan  kecepatan  Anak  Tangga atau Palet  terhadap  Ban  Pegangan,  kecepatan   Ban Pegangan harus lebih cepat dan tidak melebihi  2%  (dua persen).

(4)      Lebar Ban Pegangan harus 70 (tujuh puluh) milimeter sampai dengan 100 (seratus)millimeter.

(5)      Eskalator dilarang dioperasikan apabila kecepatan Ban Pegangan tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3).

Paragraf 8

Lintasan Luncur (Void)

Pasal 45

(1)   Kekuatan  balok  pendukung  dudukan  Eskalator  pada Lintasan Luncur harus diperhitungkan sesuai dengan spesifikasi Eskalator.

(2)    Eskalator  hanya  dapat  dipasang  pada  bangunan  yang telah memenuhi syarat untuk pemasangan Eskalator sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.

(3)   Lintasan Luncur Eskalator tidak boleh digunakan sebagai Tempat Kerja dan tempat penyimpanan barang.

(4)   Eskalator   yang   terpasang   di   lantai   yang   langsung berhubungan   dengan   tanah,   dinding    Lekuk   Dasar bangunan (pit) harus kedap air.

(5)    Penerangan ruanganLintasan Luncur paling rendah 50 (lima puluh) lux.

(6)   Semua bagian kerangka Eskalatorharus ditutup dengan bahan yang tidak mudah pecah.

(7)   Tinggi antara permukaan Anak Tangga atau Palet dengan benda  atau  bangunan  lain  di  atasnya  harus  paling rendah 2300 (dua ribu tiga ratus) milimeter.

Pasal 46

(1)               Eskalator yang dipasang di area terbuka harus dipasang pagar pengaman dengan   jarak   80   (delapan   puluh) milimeter            sampai   dengan   120   (seratus   dua   puluh) milimeter dari sisi luar Ban Pegangan.

(2)            Jarak  antara  pagar  pengaman  atau  bangunan dengan pelindung samping paling besar 120 (seratus dua puluh) milimeter.

(3)          Tinggi pagar pengaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)  harus   lebih   tinggi   100   (seratus)   milimeter   dari permukaan Ban Pegangan.

(4)         Pemasangan    ornamen    di    area     Eskalator    harus mempunyai   jarak  paling  sedikit  80   (delapan  puluh) milimeter dari sisi luar Ban Pegangan  dan mempunyai tinggi paling sedikit 2100 (dua ribu seratus)  milimeter dari Anak Tangga atau Palet.

(5)      Apabila Eskalator dioperasikan pada area terbuka, jarak antara pelindung luar (outer deck) dengan balok struktur atau  dinding  yang  terbuka  paling  sedikit  400  (empat ratus) milimeter, apabila kurang maka harus dipasang rambu peringatan sebelum balok struktur atau dinding yang terbuka tersebut.

Paragraf 9

Peralatan Pengaman

Pasal 47

(1)      Eskalator harus dilengkapi alat pengaman paling sedikit meliputi:

a.     kunci    atau    pengendali    operasi    (remote    infra red)untuk mengoperasikan atau menghentikan yang disertai dengan atau tanpa bunyi sebagai tanda peringatan (start/stop key with buzzer);

b.    tombol penghenti pada kondisi darurat (emergency stopping devices);

c.    peralatan pengaman untuk rantai Anak Tangga atau Palet (broken step chain device);

d.    peralatan  pengaman  untuk  rantaipenarik  (broken drive chain device);

e.    peralatan    pengaman    untukAnak    Tangga   atau Palet(broken step device);

f.     peralatan  pengaman  untukBan  Pegangan  (broken handrail device);

g.     peralatan  pengaman  pencegah  balik  arah  (non- reverse device);

h.    peralatan  pengaman  area  masuk  Ban  Pegangan (handrail entry device);

i.     peralatan  pengaman  plat  sisir  (comb  plate  safety device);

j.     sikat pelindung dalam (skirt brush);

k.    jika  menggunakan  motor  yang  memiliki  frekuensi yang bervariable (variable  frequency), harus dilengkapi dengan pengaman   kecepatan   lebih (overspeed protection);

l.     jika  Eskalator  mempunyai  ketinggian  antar  lantai lebih dari 10 (sepuluh) meter harus dilengkapi rem pengaman (safety brake); dan

m.   Eskalator    hanya    dapat    dioperasikan    dengan menggunakan kunci kontak atau pengendali operasi (remote infra red)sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a.

(2)   Tombol  penghenti  pada  kondisi  darurat  sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) huruf b harus ditempatkan pada tempat  yang  mudah  dicapai  dan  dipasang pada lantai penghantar atas dan bawah dengan jarak antar tombol penghenti harus kurang dari 30000 (tiga puluh ribu) milimeter.

(3)   Tombol  penghenti  pada  kondisi  darurat  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b harus mempunyai tanda yang jelas dan bertuliskan tombol penghenti.

Paragraf 10

Instalasi Listrik

Pasal48

(1)            Rangkaian,  pengamanan,  dan  pelayanan  listrik  harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bidang listrik.

(2)            Sumber  daya  listrik  yang  digunakan  untuk  Eskalator harus berasal dari panel tersendiri.

(3)            Dalam hal terjadi gangguan daya listrik, pengoperasian kembali Eskalator harus dilakukan secara manual.

(4)            Tahanan  pembumian  Eskalator  paling  besar  5  (lima) Ohm  pada  sub  panel  daya  Eskalator  dengan  ukuran kabel pembumian paling kecil 6 (enam) millimeter persegi.

Pasal 49

(1)      Bangunan   yang   memiliki   instalasi    proteksi   alarm kebakaran    otomatik    maka    instalasi    alarm    harus dihubungkan dengan instalasi listrik Eskalator.

(2)      Pada kondisi terjadi kebakaran, Eskalator harus dapat berhenti secara otomatis.

Pasal50

Dalam   hal   Eskalator   dipasang   diluar   gedung,   selain memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalamPasal 35 sampai dengan Pasal 49 juga harus memenuhi persyaratan:

a.     harus dilengkapi dengan pompa air pada Lekuk Dasar bangunan; dan

b.    bagian, komponen atau perlengkapan harus tahan air, suhu atau cuaca.

Pasal51

(1)      Pengurus atau pengelola gedung yang memiliki Eskalator wajib memastikan keselamatan penggunaan Eskalator.

(2)   Keselamatan penggunaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a.     pelarangan  membawa  barang  panjang,  besar  dan berat melebihi kapasitas;

b.    pelarangan lompat-lompat diatas Anak Tangga atau Palet;

c.     pelarangan   anak   kecil   menggunakan   Eskalator, kecuali didampingi;

d.    pelarangan  membawa  troli  dan  kereta  bayi  pada Eskalator yang beranak tangga;

e.     pelarangan  bersandar  pada  Ban  Pegangan  atau pelindung samping;

f.     pelarangan menginjak Pelindung Bawah (skirt panel);

g.     pelarangan  penggunaanalas  kaki  berbahan  karet lunak atau tanpa alas kaki;

h.    pelarangan berdiri diantara anak tangga; dan i.     anjuran memegang Ban Pegangan.

Pasal 52

Pemilik atau Pengurus dan/atau Pengusaha atau pengelola gedung yang memiliki Elevator atau Eskalator wajib:

a.     memasang   tanda   pelarangan   penggunaan   Elevator atauEskalatorpada saat kondisi darurat kebakaran dan tanda  tersebut  diletakkan  pada  tempat  yang  mudah dilihat dengan tulisan yang mudah dibaca dan dipahami;

b.    memastikan  pengunaan  Elevator  atau  Eskalato  sesuai dengan peruntukannya; dan

c.     mempunyai dan memelihara dokumen terkait perencanaan, pembuatan, pemasangan, perakitan, pemakaian,                              perawatan, pemeliharaan, perbaikan,pemeriksaan,dan pengujian Elevator atau Eskalator.

BAB IV PERSONIL K3

Pasal 53

Perencanaan, pembuatan, pemasangan, perakitan, perawatan, dan perbaikan Elevator dan Eskalator wajib dilakukan oleh perusahaan yang memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan.

Pasal 54

(1)   Pemasangan, perakitan, perbaikan, perawatan, pemeliharaan dan/atau pengoperasian Elevator dan Eskalator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus dilakukan Teknisi K3 Elevator dan Eskalator.

(2)   Dalam hal pemeliharaan dan pengoperasianElevator dan Eskalator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dapat dilakukan Operator K3 Elevator dan Eskalator.

(3)   Teknisi   K3   dan   Operator   K3   bidang   Elevator   dan Eskalator  dan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1), harus memiliki kompetensi dan kewenanganK3 Elevator dan Eskalator.

(4)   Sertifikasi  kompetensi  Teknisi  K3  dan  Operator  K3 Elevator dan Eskalator sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(5)   Kewenangan Teknisi K3 dan Operator K3 Elevator dan Eskalator sebagaimana dimaksud ayat (1) dibuktikan dengan lisensi K3.

Pasal 55

(1)   Kompetensi Teknisi K3 Elevator dan Eskalator sebagaimana dimaksud dalam Pasal54 ayat (3) meliputi:

a.    pengetahuan teknik;

b.    keterampilan teknik; dan

c.    perilaku.

(2)   Pengetahuan teknik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit meliputi:

a.    mengetahui peraturan perundangan K3 Elevator dan Eskalator;

b.    mengetahuiteknik identifikasi, analisis dan penilaian risiko serta pengendalian potensi bahaya pemasangan, perakitan, perbaikan,    perawatan, pemeliharaan dan/atau pengoperasian Elevator dan Eskalator;

c.    mengetahuipersyaratan K3 pemasangan, perakitan, perbaikan, perawatan, pemeliharaan dan/atau pengoperasian Elevator dan Eskalator;

d.    mengetahuit  eknik  pertolongan  kecelakaan  kerja Elevator dan Eskalator; dan

e.    mengetahui pelaksanaan prosedur kerja aman.

(3)   Keterampilan teknik sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) huruf b paling sedikit meliputi:

a.     melaksanakan peraturan perundangan K3 Elevator dan Eskalator;

b.    melaksanakan  identifikasi,  analisis  dan  penilaian risiko serta pengendalian potensi bahaya pemasangan, perakitan,   perbaikan,    perawatan, pemeliharaan dan/atau pengoperasian Elevator dan Eskalator;

c.     melaksanakan persyaratan K3 pemasangan, perakitan, perbaikan, perawatan, pemeliharaan dan pengoperasian Elevator dan Eskalator;

d.    melaksanakan     pertolongan     kecelakaan     kerja Elevator dan Eskalator; dan

e.    melaksanakan prosedur kerja aman.

(4)   Perilaku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi sikap taat aturan, teliti, tegas, disiplin, dan bertanggungjawab.

Pasal 56

(1)   Kompetensi    Operator    K3    Elevator    dan    Eskalator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (3) meliputi:

a.    pengetahuan teknik;

b.    keterampilan teknik; dan

c.    perilaku.

(2)   Pengetahuan teknik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, paling sedikit meliputi:

a.    mengetahui peraturan perundangan K3 Elevator dan Eskalator;

b.    mengetahui  teknik  identifikasi,  analisis,  penilaian risiko,  dan     pengendalian     potensi     bahaya pemeliharaan dan/atau pengoperasian Elevator dan Eskalator;

c.     mengetahui mengenai persyaratan K3 pemeliharaan dan pengoperasian Elevator dan Eskalator;

d.    mengetahui  teknik  pertolongan  kecelakaan  kerja Elevator dan Eskalator; dan

e.    mengetahui pelaksanaan prosedur kerja aman.

(3)   Keterampilan teknik sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) huruf b paling sedikit meliputi:

a.     melaksanakan peraturan perundangan K3 Elevator dan Eskalator;

b.    melaksanakan identifikasi, analisis, penilaian risiko, dan pengendalian potensi bahaya pemeliharaan dan/atau pengoperasian Elevator dan Eskalator;

c.     melaksanakan  persyaratan  K3  pemeliharaan  dan pengoperasian Elevator dan Eskalator;

d.    melaksanakan pertolongan kecelakaan kerja Elevator dan Eskalator; dan

e.    melaksanakan prosedur kerja aman.

(4)   Perilaku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi sikap taat aturan, teliti, tegas, disiplin, dan bertanggungjawab.

Pasal 57

TeknisiK3  Elevator  dan  Eskalator  sebagaimana  dimaksud dalam Pasal 54 harus memenuhi persyaratan:

a.    berpendidikan paling rendah SMK jurusan teknik atau SMA atau sederajat;

b.    memiliki pengalaman paling sedikit 2(dua) tahun membantu pekerjaan pemasangan, perakitan, perbaikan, perawatan, pemeliharaan, dan/atau pengoperasian Elevator dan Eskalator;

c. berbadan sehat berdasarkan surat keterangan dokter;

d. umur paling rendah 21 (dua pulug satu) tahun; dan

e. memiliki lisensi K3;

Pasal 58

Operator K3 Elevator dan Eskalator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 harus memenuhi persyaratan:

a.    berpendidikan paling rendah SMK jurusan teknik atauSMA atau sederajat;

b.    memiliki pengalaman paling sedikit 1 (satu) tahun membantu pekerjaan pemeliharaan dan/atau pengoperasianElevator dan Eskalator;

c.    berbadan sehat berdasarkan surat keterangan dokter;

d.    umur paling rendah 21 (dua puluh satu) tahun; dan

e.    memiliki lisensi K3.

Bagian Keempat

Tata Cara Memperoleh Lisensi K3

Pasal 59

(1)   Untuk  memperoleh  lisensi  K3  Teknisi  dan  Operator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 huruf e dan Pasal 58 huruf e, Pengusaha dan/atau Pengurus mengajukan     permohonan   tertulis   kepada   Direktur Jenderal dengan melampirkan:

a.    fotokopi ijazah terakhir;

b.    surat  keterangan  pengalaman  kerja  membantu pelaksanaan pemasangan, perakitan, perbaikan, perawatan,    pemeliharaan,             dan/atau pengoperasian yang diterbitkan oleh perusahaan;

c.    surat keterangan sehat dari dokter;

d.    fotokopi Kartu Tanda Penduduk;

e.    fotokopi sertifikat kompetensi; dan

f.     2 (dua) lembar pas photo berwarna 2×3 (dua kali tiga) dan 4×6 (empat kali enam).

(2)   Permohonan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) dilakukan pemeriksaan dokumen oleh tim.

(3)   Dalam  hal  persyaratan  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) dinyatakan lengkap, Direktur Jenderal menerbitkan lisensi K3.

Pasal 60

(1)   Lisensi  K3   berlaku  untuk  jangka   waktu  5  (lima) tahun dan dapat diperpanjang  untuk  jangka  waktu yang sama.

(2)   Permohonan   perpanjangan   sebagaimana   dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh Pengusaha dan/atau Pengurus kepada Direktur      Jenderal dengan melampirkan  persyaratan  sebagaimana  dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) dan lisensi K3.

(3)   Permohonan  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) diajukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum masa berakhirnya lisensi K3.

Pasal61

Lisensi K3 hanya berlaku selama Teknisi K3 atau Operator K3 Elevator  dan  Eskalator  yang  bersangkutan bekerja  di perusahaan yang mengajukan permohonan.

Pasal 62

(1)   Dalam     hal     sertifikat     kompetensi     sebagaimana dimaksud dalam Pasal59 ayat (1) huruf e belum dapat dilaksanakan, dapat menggunakan surat keterangan telah mengikuti pembinaan K3 yang  diterbitkan oleh Direktur Jenderal.

(2)   Surat   keterangan   telah   mengikuti   pembinaan   K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah dilakukan pembinaan dengan pedoman pelaksanaan pembinaan       tercantum     dalam     Lampiran     yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Bagian Kelima

Kewenangan Teknisi K3

Pasal 63

Teknisi K3 Elevator dan Eskalator berwenang:

a.   melakukan      pemasangan,      perakitan,      perbaikan, perawatan, pemeliharaan    dan/atau    pengoperasian Elevator dan Eskalator sesuai dengan penugasannya;

b.  menolak melakukan pemasangan, perakitan, perbaikan, perawatan, pemeliharaan    dan/atau    pengoperasian Elevator dan Eskalator, jika terdapat persyaratan K3 yang  belum  terpenuhi  dan  berpotensi  terjadi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja;

c.   melakukan    tindakan    korektif    atau    memberikan rekomendasi untuk menghentikan pengoperasian Elevator atau Eskalator kepada    Pengurus,    jika ditemukan kondisi potensi bahaya pada Elevator dan Eskalator; dan

d. menghentikan Elevator dan Eskalator pada kondisi darurat dan mengoperasikan kembali setelah kondisi aman.

Bagian Keenam

Kewajiban Teknisi K3

Pasal 64

Teknisi K3 Elevator dan Eskalator berkewajiban untuk:

a.     mematuhi      ketentuan      peraturan      perundang- undangandan/atau standar yang telah ditetapkan;

b.    melaporkan    kepada    atasan    langsung,    kondisi pelaksanaan pemasangan,    perakitan,    perbaikan, perawatan, pemeliharaan   dan/atau pengoperasian Elevator atau Eskalator yang menjadi tanggung jawabnya jika tidak aman atau tidak layak kerjakan;

c.    bertanggung jawab atas hasil pemasangan, perakitan, perbaikan, perawatan, pemeliharaan dan/atau pengoperasian Elevator dan Eskalator;

d.    membantu melakukan pertolongan kecelakaan Elevator dan Eskalator; dan

e.     membantu Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis dalam pelaksanaan pemeriksaan dan/atau pengujian Elevator dan Eskalator.

Bagian Ketujuh

Kewenangan Operator K3

Pasal 65

Operator K3 Elevator dan Eskalator berwenang:

a. melakukanpemeliharaan  dan  pengoperasian  Elevator dan Eskalator sesuai dengan lisensi K3;

b. menolak pengoperasian Elevator dan Eskalator jika terdapat persyaratan K3 yang belum terpenuhi dan berpotensi terjadi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja; dan

c. menghentikan  Elevator  dan  Eskalator  pada  kondisi darurat dan mengoperasikan kembali setelah kondisi aman.

Bagian Kedelapan

Kewajiban Operator K3

Pasal 66

Operator K3 Elevator dan Eskalator berkewajiban untuk:

a.     mematuhi peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan;

b.    melaporkan kepada atasan langsung, kondisi Elevator dan Eskalator yang menjadi tanggung jawabnya jika tidak aman atau tidak layak dioperasikan;

c.    bertanggung jawab atas hasil pemeliharaan dan pengoperasian Elevator dan Eskalator;

d.    membantu melakukan pertolongan kecelakaan Elevator dan Eskalator;

e.     membantu Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis dalam pelaksanaan pemeriksaan dan/atau pengujian Elevator dan Eskalator.

Bagian Kesembilan

Pencabutan Lisensi K3

Pasal 67

Lisensi  K3  dapat  dicabut  apabila  TeknisiK3  atau OperatorK3 Elevator dan Eskalatoryang bersangkutan terbukti:

a.    melakukan tugas tidak sesuai dengan penugasan dan lisensi K3;

b.    melakukan kesalahan, atau kelalaian, atau kecerobohan sehingga menimbulkan keadaan berbahaya atau kecelakaan kerja; atau

c.    tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 atau Pasal 66.

BAB V PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN

Pasal 68

(1) Setiap kegiatan perencanaan, pembuatan,  pemasangan, perakitan,      pemakaian,      perawatan,      pemeliharaan dan/atau                  perbaikan   Elevator   dan    Eskalator   harus dilakukan pemeriksaan dan/atau pengujian.

(2)   Pemeriksaan dan/atau pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2ayat (3).

Pasal 69

(1)   Pemeriksaan    sebagaimana    dimaksud    dalam    Pasal 68merupakan kegiatan mengamati, menganalisis, membandingkan, menghitung, dan mengukur Elevator atau Eskalator untuk memastikan terpenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3).

(2)   Pengujian     sebagaimana     dimaksud     dalam     Pasal 68merupakan kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan semua tindakan pengetesan kemampuan  operasi,  bahan,  dan  konstruksi  Elevator atau  Eskalatoruntuk  memastikan terpenuhinya ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3).

Pasal 70

Pemeriksaan  dan/atau  pengujian  sebagaimana  dimaksud dalam Pasal 69, meliputi:

a.    pertama;

b.    Berkeley;

c.    khusus; dan

d.    ulang.

Pasal 71

(1)   Pemeriksaan dan/atau pengujian pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 huruf a dilakukan pada:

a.    perencanaan;

b.    pembuatan;

c.    sebelum penyerahan kepada pemilik; atau

d.    setelah  dilakukan  perbaikan  dengan  penggantian bagian atau komponen utama.

(2)   Pemeriksaan    dan/atau    pengujian    perencanaandan pembuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan  huruf    b    meliputi    pemeriksaan    persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1).

Pasal 72

(1)   Pemeriksaandan/atau   pengujianpertama   sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf cuntuk Elevator meliputi:

a.    kesesuaian gambar rencana dengan yang terpasang;

b.    gambar terpasang (as built drawing);

c.    mesin;

d.    tali/sabuk penggantung;

e.    teromol;

f.     bangunan  Ruang  Luncur,  ruang  atas,  dan  Lekuk Dasar;

g.    Kereta;

h.    Governor dan Rem Pengaman Kereta;

i.     Bobot Imbang, Rel Pemandu,dan Peredam;

j.     instalasi listrik.

k.    saklar pengaman;

l.     buffer;

m.   perlengkapan pengaman beban lebih;

n.    perlengkapan pengaman lintas batas;

o.    alat komunikasi;

p.    catu daya pengganti listrik otomatis atau Automatic Rescue Device (ARD);

q.    fungsi lift penanggulangan kebakaran;

r.     sensor gempa bumi (apabila ada); dan

s.    perlengkapan pengaman lainnya.

(2)   Pemeriksaan dan/atau pengujian pertama sebagaimana dimaksud dalam  Pasal  71  ayat  (1)  huruf  c  untuk Eskalator meliputi:

a.    kesesuaian gambar rencana dengan yang terpasang;

b.    gambar terpasang (as built drawing)

c.    kerangka, ruang mesin dan Lekuk Dasar (pit);

d.    peralatan penggerak;

e.    anak tangga dan palet;

f.     Bidang Landas;

g.    pagar pelindung;

h.    Ban Pegangan;

i.     Lintasan Luncur (Void);

j.     peralatan pengaman; dan

k.    instalasi listrik.

(3)   Pemeriksaan dan/atau pengujian pertama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf d meliputi pemeriksaan dan/atau pengujian terhadap bagian atau komponen  Elevator atau Eskalator yang   dilakukan perbaikan atau penggantian.

Pasal 73

(1)   Pemeriksaan  dan/atau  pengujian  berkala  sebagaimana dimaksud dalam  Pasal  70huruf  b  dilakukan  paling sedikit 1 (satu) tahun sekali.

(2)   Pemeriksaan  dan/atau  pengujian  berkala  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Elevator paling sedikitmeliputi:

a.    mesin;

b.    tali/sabuk penggantung;

c.    teromol;

d.    bangunan  Ruang  Luncur,  ruang  atas  dan  Lekuk Dasar;

e.    Kereta;

f.     Governor dan Rem Pengaman Kereta;

g.    Bobot Imbang, Rel Pemandu dan Peredam;

h.    instalasi listrik.

i.     saklar pengaman;

j.     buffer;

k.    perlengkapan pengaman beban lebih;

l.     perlengkapan pengaman lintas batas;

m.   alat komunikasi;

n.    catu daya pengganti listrik otomatis atau Automatic Rescue Device (ARD);

o.    fungsi lift penanggulangan kebakaran; p.    sensor gempa bumi (apabila ada); dan q.    perlengkapan pengaman lainnya.

(3)   Pemeriksaan  dan/atau  pengujian  berkala  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk Eskalator paling sedikit meliputi:

a.    kerangka, ruang mesin, dan Lekuk Dasar (pit);

b.    peralatan penggerak;

c.    anak tangga dan palet;

d.    Bidang Landas;

e.     pagar pelindung;

f.     Ban Pegangan;

g.    Lintasan Luncur (void);

h.    peralatan pengaman; dan

i.     instalasi listrik.

Pasal74

(1)   Pemeriksaan  dan/atau  pengujian  khusus  sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70huruf c merupakan kegiatan pemeriksaan dan/atau pengujian yang dilakukan setelah terjadinya kecelakaan kerja.

(2)   Pemeriksaan  dan/ataupengujian  khusus  sebagaimana dimaksud pada   ayat   (1)   dilakukan   sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 75

(1)   Pemeriksaan  dan/atau  pengujian  ulang  sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70huruf d dilakukan apabila hasil pemeriksaan dan/atau pengujian sebelumnya terdapat keraguan.

(2)   Pemeriksaan  dan/atau  pengujian  ulang  sebagaimana dimaksud pada    ayat    (1)    dilakukan    sebagaimana pemeriksaan dan/atau pengujian dalam Pasal 72, Pasal 73, dan Pasal 74.

Pasal 76

Pemeriksaan dan/atau pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72, Pasal 73, dan Pasal 74 menggunakan contoh formulir tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 77

Pemeriksaan dan/atau pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 dilakukan oleh:

a. Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis;dan/atau b. Ahli K3 bidang Elevator dan Eskalator.

Pasal 78

(1)   Pemeriksaan    dan/atau    pengujian    yang    dilakukan Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf a dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(2)   Ahli  K3  bidang  Elevator  dan  Eskalator  sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 huruf b harus ditunjuk oleh Menteri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

(3)   Untuk dapat ditunjuk sebagai Ahli K3 bidang Elevator dan Eskalator harus memiliki kompetensi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 79

(1)   Kompetensi  Ahli  K3  bidang  Elevator  dan  Eskalator sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 ayat (3) meliputi:

a.    pengetahuan teknik;

b.    keterampilan teknik; dan

c.    perilaku.

(2)   Pengetahuan teknik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, paling sedikit meliputi:

a.     memahami peraturan perundang-undangan mengenai K3 Elevator dan Eskalator;

b.    mengetahui  teknik  identifikasi,  analisis,  penilaian risiko, dan pengendalian potensi bahaya perencanaan, pembuatan, pemasangan, perakitan, pemakaian, perawatan, pemeliharaan, dan/atau perbaikan Elevator dan Eskalator;

c.    mengetahui  jenis  dan  sifat  bahan  Elevator  dan Eskalator;

d.    mengetahui   persyaratan   K3   bagian-bagian   dan perlengkapan Elevator dan Eskalator;

e.     mengetahui   persyaratan   K3   peralatan   dan/atau sistem pengaman Elevator dan Eskalator;

f.     mengetahui teknik perhitungan konstruksi Elevator dan Eskalator;

g.    mengetahui    teknik    rangkaian    instalasi    listrik Elevator dan Eskalator;

h.    mengetahui      persyaratan      K3      perencanaan, pembuatan, pemasangan,   perakitan,   pemakaian, perawatan, pemeliharaan,    dan/atau perbaikan Elevator dan Eskalator;

i.     mengetahui teknik pemeriksaan dan/atau pengujian Elevator dan Eskalator;

j.     mengetahui  teknik  pertolongan  kecelakaan  kerja Elevator dan Eskalator; dan

k.    mengetahui pelaksanaan prosedur kerja aman.

(3)   Keterampilan Teknik sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) huruf b, paling sedikit meliputi:

a.    melaksanakan  peraturan  perundang-undangan  K3 Elevator dan Eskalator;

b.    melakukan  identifikasi,  analisis,  penilaian  risiko, dan pengendalian   potensi   bahaya   perencanaan, pembuatan, pemasangan,   perakitan,   pemakaian, perawatan, pemeliharaan, dan/atau perbaikan Elevator dan Eskalator;

c.    memeriksa dan menganalisis jenis dan sifat bahan Elevator dan Eskalator;

d.    memeriksa dan/atau menguji perhitungan konstruksi Elevator dan Eskalator;

e.     memeriksa dan/atau menguji persyaratan K3 bagian-bagian   dan   perlengkapan Elevator dan Eskalator;

f.     memeriksa   dan/atau   menguji   persyaratan   K3 peralatan dan/atau sistem pengaman Elevator dan Eskalator;

g.    memeriksa    dan/atau    menguji    instalasi    listrik Elevator dan Eskalator;

h.    memeriksa   dan/atau   menguji   persyaratan   K3 perencanaan, pembuatan, pemasangan, perakitan, pemakaian, perawatan,   pemeliharaan,   dan/atau perbaikan Elevator dan Eskalator;

i.     melaksanakan     persyaratan     K3     perencanaan, pembuatan,    pemasangan,   perakitan,   pemakaian, perawatan,       pemeliharaan,    dan/atau    perbaikan Elevator dan Eskalator;

j.     melaksanakan pertolongan kecelakaan kerja Elevator dan Eskalator; dan

k.    melaksanakan prosedur kerja aman.

(4)   Perilaku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi sikap taat aturan, teliti, tegas, disiplin, dan bertanggungjawab.

Pasal 80

(1)   Hasil   pemeriksaan   dan/atau   pengujiansebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 harus dilaporkan ke pimpinan unit kerja pengawasan ketenagakerjaan.

(2)   Hasil  pemeriksaan  dan/atau  pengujian  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dituangkan dalam Surat Keteranganyang diterbitkan oleh unit kerja pengawasan ketenagakerjaan   sesuai   dengan   ketentuan  peraturan perundang-undangan.

(3)   Surat Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi dengan hasil pemeriksaan dan/atau pengujian pada lembar terpisah.

(4)   Surat Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat dalam 3 (tiga) rangkap dengan rincian:

a.    lembar pertama, untuk pemilik;

b.    lembar  kedua,  untuk  unit  pengawasan  ketenaga kerjaan setempat; dan

c.     lembar ketiga, untuk unit pengawasan ketenagakerjaan pusat.

(5)   Unit  kerja  pengawasan  ketenagakerjaan  sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib menyampaikan surat keterangansebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada unit pengawasan ketenagakerjaan di pusat setiap 1 (satu) bulan sekali.

Pasal 81

(1)   Pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat

(1) dapat dilakukan secara luring maupun daring.

(2)   Pelaporan  secara  daring  sebagaimana  dimaksud  pada ayat (1) dilakukan secara bertahap.

Pasal 82

Surat keterangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat

(2) meliputi:

a.    Surat Keterangan Memenuhi Persyaratan K3; atau

b.    Surat Keterangan Tidak Memenuhi Persyaratan K3; tercantum  dalam  Lampiran  yang  merupakan  bagian  tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal 83

(1)   Elevator atau Eskalatoryang memenuhi persyaratan K3 sebagaimana dimaksud   dalam   Pasal   82   huruf   a, diberikan tanda memenuhi syarat K3 pada Elevator atau Eskalator.

(2)   Tanda memenuhi syarat K3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa stiker yang dibubuhi stempel tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.

Pasal84

(1)   Elevator    atau    Eskalator    yang    tidak    memenuhi persyaratan K3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 huruf  bdilarang     atau     dihentikan     pengoperasian pemakaian.

(2)   Pelarangan atau penghentian dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3)   Tanda pelarangan atau penghentian berupa stiker yang dibubuhi stempel tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian  tidak  terpisahkan  dari  Peraturan Menteri ini.

BAB VI PENGAWASAN

Pasal 85

Pengawasan pelaksanaan K3 Elevator dan Eskalatordilaksanakan oleh Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

BAB VII SANKSI

Pasal 86

Pengusaha dan/atau Pengurus yang tidak memenuhi ketentuan dalam Peraturan Menteri ini dikenakan sanksi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan  Kerja  dan  Undang-Undang  Nomor  13  Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 87

Elevator  dan/atau Eskalator  yang  telah  terpasang sebelum Peraturan Menteri ini berlaku, wajib menyesuaikan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diundangkannya Peraturan Menteri ini.

Pasal 88

Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik yang diangkat dan ditetapkan sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini, wajib memiliki kompetensi di bidang Elevator dan Eskalator.

BAB IX KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 89

Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Pengawas Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik yang sudah ada sebelum Peraturan Menteri ini berlaku, selanjutnya disebut   sebagai   Pengawas  Ketenagakerjaan Spesialis K3 Listrik, Elevator, dan Eskalator.

BAB X KETENTUAN PENUTUP

Pasal 90

Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku:

a.     Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.03/MEN/1999 tentang Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift untuk Pengangkutan Orang dan Barang;

b.    Peraturan  Menteri  Ketenagakerjaan  Nomor  32  Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER. 03/MEN/1999 tentang Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lift untuk Pengangkutan Orang dan Barang;

c.     Peraturan Menteri Tenaga Kerja NomorPER.05/MEN/1985  tentang  Pesawat  Angkatdan Angkut sepanjang mengatur Eskalator;

d.    Keputusan   Menteri   Tenaga   Kerja   dan   Transmigrasi Nomor 09/MEN/VII/2010tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat   dan   Angkut   sepanjang   mengatur Operator Eskalator; dan

e.     Keputusan Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan NomorKEP.407/BW/1999 tentang Persyaratan, Penunjukan, Hak dan Kewajiban Teknisi Lift, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 91

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 Juli 2017

MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA,

ttd

M. HANIF DHAKIRI

Diundangkan di Jakarta

pada tanggal 6 Juli 2017

DIREKTUR JENDERAL

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

ttd

WIDODO EKATJAHJANA

Kami Butuh Bantuanmu

JIka ada kesalahan dalam penulisan lainnya silakan hubungi kami

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Yang lainnya