Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No : PER. 02/MEN/1982 Tentang Kwalifikasi Juru Las di Tempat Kerja

PERATURAN

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI No : PER. 02/MEN/1982

TENTANG

KWALIFIKASI JURU LAS DI TEMPAT KERJA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI

Menimbang     :     a.   bahwa   dengan   kemajuan   tehnik   dan   teknologi   dewasa   ini khususnya  dalam bidang  kontruksi  las, diperlukanc tingkat ketrampilan juru las yang memadai;

b.  bahwa  untuk  itu  perlu  dikeluarkan   peraturan   Menteri  tentang kwalifikasi Juru Las di Tempat Kerja

Menetapkan    :     1.   Undang-undang   uap   Tahun   1970   tentang   Keselamatan   Kerja (Lembaran Negara Tahun 1970. No. 1 TLN 2918);

2.   Undang-undang uap tahun 1930 (Stoom Ordonantie 1930).

MEMUTUSKAN

Menetapkan    :     PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI TENTANG KWALIFIKASI JURU LAS DI TEMPAT KERJA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini dimaksud dengan:

a.   Tempat Kerja adalah tempat sebagaimana dimaksud pada pasal 1 ayat (1) Undang- undang No. 1 Tahun 1970.

b.   Pengurus  adalah  Pengurus  sebagaimana  dimaksud  pada  pasal  1  ayat  (2)  Undang undang No. 1 Tahun 1970.

c.   Pegawai Pengawas  adalah Pegawai Pengawas  sebagaimana  dimaksud  pada pasal 1 ayat (5) Undang-undang No. 1 Tahun 1970.

d.   Direktur  adalah Direktur  sebagaimana  dimaksud  dalam Keputusan  Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 79 Tahun 1977;

Pasal 2

(1) Peraturan  Menteri  ini  meliputi  kwalifikasi  juru  las  untuk  ketrampilan  pengelasan sambungan las tumpul dengan proses las busur listrik, las busur listrik submerged, las gas busur listrik tungstem,  las karbit atau kombinasi  dari proses las tersebut  yang dilakukan dengan tangan (secara manual), otomatis atau kombinasi.

(2) Syarat untuk juru las yang melakukan pengelasan secara otomatis akan diatur lebih lanjut.

Pasal 3

(1) Juru las dianggap trampil apabila telah menempuh ujian las dengan hasil memuaskan dan mempunyai sertifikat juru las.

(2) Juru  las  tersebut  (1)  dianggap  tidak  trampil  apabila  selama  6  (enam)  bulan  terus menerus tidak melakukan pekerjaan las sesuai dengan yang tercantum dalam sertifikat juru las.

Pasal 4

(1) Peserta Juru las harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a.   berbadan   sehat  baik  physik  maupun  mental  yang  dinyatakan   dengan  surat keterangan   dokter   pemeriksa   kesehatan   badan   tenaga   kerja   sesuai   dengan ketentuan yang berlaku;

a.   berumur sekurang-kurangnya 18 tahun;

b.   pemah  mengikuti  dan  lulus  latihan  las  dasar  atau  mereka  yang  oleh  Direktur dianggap memenuhi syarat;

(2) Direktur dapat mengadakan perubahan terhadap syarat-syarat tersebut pada ayat (1).

Pasal 5

(1) Jenis pekerjaan las yang ditetapkan pada sertifikat juru las.

(2) Pada pekerjaan las yang beraneka ragam, tiap jenis pekerjaan las dilakukan oleh juru las sesuai dengan jenis pekerjaan las yang tercantum pada masing-masing  sertifikat juru las.

(1) Juru las digolongkan atas: a.   Juru las kelas I (satu) b.   Juru las kelas II (dua)

c.   Juru las kelas III (tiga)

Pasal 6

(2) Juru las kelas 1 (satu) boleh melakukan pekerjaan las yang dilakukan oleh juru las kelas II (dua). dan kelas III (tiga).

(3) Juru las kelas II (dua) boleh melakukan pekerjaan las yang dikerjakan oleh juru las kelas III (tiga) tetapi dilarang mengelas  jenis pekerjaan yang boleh dilakukan oleh juru las kelas I (satu)

(4) Juru las kelas III (tiga) dilarang melakukan pekerjaan las yang boleh dilakukan oleh juru las kelas 11 (dua) atau kelas I (satu).

Pasal 7

(1) Pekerjaan  las yang boleh dilakukan  oleh Juru las kelas I (satu), kelas II (dua) dan kelas III (tiga) tetapi dilarang mengelas jenis kelas II (dua) dan kelas Ill (tiga) adalah seperti tersebut pada lampiran I tabel 1.

(2) Direktur dapat merubah jenis pekerjaan pada lampiran I tabel 1 tersehut pada ayat (1).

BAB II PENGUJIAN JURU LAS

Pasal 8

Pengujian juru las terdiri dari:

a. Ujian teori

b. Ujian praktek

Pasal 9

(1) Ujian  teori  tersebut  pasal  8  huruf  a  untuk  juru  las  karbit  meliputi  pengetahuan peraturan, cara kerja praktis, sebagai berikut:

a.   pencegahan kecelakaan, penyakit akibat kerja, kebakaran dan peledakan;

b.   penggunaan alat-alat las misalnya lampu gas, botol gas, generator gas;

c.   nyala gas misalnya sifat, penyetelan, pengaruh pada Las;

d.   cara pengelasan;

e.   persiapan mengelas;

f.   pencegahan dan perbaikan kesalahan las;

g.   bahan induk dan bahan pengisi.

(2) Ujian  teori  tersebut  pasal  8 huruf  a untuk  juru las busur  listrik  dan juru las TIG (Tungsten  innert  gas  welding)  meliputi  pengetahuan  peraturan,  cara  kerja  praktis sebagai berikut:

a.   pencegahan kecelakaan penyakit akibat kerja, kebakaran dan peledakan;

b.   penggunaan alat dan mesin las;

c.   persiapan las;

d.   pencegahan dan perbaikan kesalahan las;

e.   pengaruh panjang busur listrik, arus listrik, polarity, pengamatan terak-terak gas untuk TIG.

(3) Ujian  teori  bagi  juru  las  selain  dan  pada  jenis  las  tersebut  ayat  (1)  dan  ayat  (2) ditetapkan oleh Direktur.

Pasal 10

Ujian  praktek  tersebut  pada  pasal  8  huruf  b,  setiap  peserta  juru  las  harus  dapat  me nunjukan ketrampilan mengelas seperti tersebut pada tabel 2 lampiran I dengan ketentuan sebagai berikut:

a.   untuk juru las kelas I (satu) harus lulus melakukan percobaan las, 1G, 2G, 3G, 4G, 5G, dan 6G.

b.   untuk juru las kelas II (dua) harus lulus melakukan percobaan las 1G, 2G, 3G dan 4G. c.   untuk juru las kelas III (tiga) harus lulus melakukan percobaan las 1G dan 2G.

Pasal 11

(1) Bagi peserta ujian praktek juru las harus menempuh contoh percobaan las pelat dan pipa seperti pada Lampiran II gambar 1 dan gambar 2.

(2) Pada contoh percobaan Las tersebut ayat (1) diberi tanda sebagai berikut:

a.   tanda uji dari Pegawai Pengawas;

b.   nama atau nomor kode juru las;

c.   kode perusahaan;

d.   tanda pelaksana ujian;

e.   tanda posisi las.

(3) Pemberian tanda-tanda tersebut ayat (2) harus jelas dan terang dan ditempatkan pada bahan induk las muka dan jauh dari sambungan las.

Pasal 12

(1) Bagi juru las yang tidak lulus ujian dapat diberikan kesempatan ujian ulang dan jika tidak lulus juga, maka diharuskan mengikuti latihan las untuk memperbaiki ketrampilannya.

(2) Bagi juru las yang sudah lulus ujian akan tetapi dalam waktu 6 (enam) bulan tidak dapat membuktikan  melakukan  pekerjaan  las sesuai dengan yang tercantum  dalam sertifikat kembali harus menempuh ujian ulang.

BAB III

SYARAT LULUS UJIAN

Pasal 13

(1) Contoh percobaan las diuji dengan urutan sebagai berikut:

a.   sifak tampak;

b.   radiografis;

c.   makroskopis;

d.   sifat mekanis.

(2) Apabila dari hasil pengujian sifat tampak sudah menunjukan tidak memenuhi syarat, maka  sudah  dapat  dinyatakan  tidak  lulus  dan  pengujian  selanjutnya  tidak  perlu dilakukan.

(3) Apabila  hasil  pengujian  sifat  tampak  baik,  akan  tetapi  hasil  pengujian  radiografis tidak memenuhi syarat maka sudah dapat dinyatakan tidak lulus dan pengujian selanjutnya tidak perlu dilakukan.

(4) Apabila   hasil   pengujian   radiografis   baik   maka   dilanjutkan   dengan   pengujian makroskopis dan sifat mekanis.

Pasal  14

Dalam melakukan pengujian sifat tampak, hal yang dinilai adalah sebagai benikut:

a.   kampuh las harus penuh, lurus dan tinggi serta lebar las harus rata: Tinggi las tidak boleh melebihi ketentuan yang tercanturn pada Lampiran 1 tabel 3.

b.   permukaan  las harus rata, tidak boleh  ada benjolan-benjolan,  lekukan-lekukan  dan pergantian setiap elektroda las harus rata serta tidak boleh terdapat takik-takik yang

tajam kecuali dalam takik antara las dan bahan induk tidak melebihi 10% dari tebal pelat dan maksimum 0,5 mm.

c.   dalamnya tembusan Las yang diperkenankan adalah kurang dan 0,1 tebal pelat akan tetapi tidak lebih dari 1 mm serta panjang garis terak seperti pada Lampiran 1 tabel 4;

d.   apabila terdapat tembusan las yang kurang dibeberapa tempat maka jumlah panjang tembusan las yang kurang tersebut tidak boleh lebih dan 25 mm.

e.   kecekungan akar las (root convavity) diperkenankan apabila permukaan akan akar las adalah rata, dalamnya cekungan tidak melebihi 1,2 mm dan tebal Las tidak kurang dan tebal pelat;

f.    untuk sambungan  las memanjang,  kemelesetan  permukaan  dari bagian-bagian  yang dilas  tumpul  tidak  boleh  melebihi  kemelesetan  1,2  mm  untuk  tebal  pelat  sampai dengan 10 mm, 10% dari tebal pelat dengan maximum 3 mm untuk tebal pelat lebih dari 10 mm sampai dengan 32 mm dan 3 mm untuk tebal pelat lebih dari 32 mm;

g.   untuk  sambungan  las  melingkar  kemelesetan  permukaan  dari  bagian-bagian  yang dilas  tumpul.  tidak  boleh  melebihi  kemelesetan  1,2  mm  untuk  tebal  pelat  sampai dengan 6 mm, 10% dari tebal Pelat ditambah 1,2 mm untuk tebal pelat lebih dari 6 mm s/d 25 mm dan 4 mm untuk tebal pelat lebih dari 25 mm.

Pasal 15

(1) Dalam melakukan pengujian radiografis hal yang dinilai adalah sebagai berikut:

a.   pada sambungan las tidak boleh mengandung retak-retak.

b. tidak boleh terdapat retak memanjang (garis terak) yang panjangnya melebihi ketentuan yang tercantum pada lampiran I tabel 4. Dan jika terdapat terak terak yang berjajaran dengan jarak antara kurang dari 3 m dianggap merupakan 1 (satu) buah terak.

c.   tidak boleh terdapat terak-terak berjajaran yang merupakan garis dengan jumlah panjang lebih dari tebal pelat (t) untuk panjang las 12t kecuali apabila jarak antara terak-terak melebihi 6L, dimana L adalah panjang terak yang terpanjang di dalam jajaran terak.

d.   Jumlah luas liang-liang renik tidak boleh lebih dari 0,60 x 25,4 x (t mm2  atau 1,5 mm2).  Apabila  panjang  las  kurang  dari  150  mm,  jumlah  liang-liang  renik berkurang menurut perbandingan.

e.   Ukuran  terbesar  dari  suatu  liang  renik  ädalah  20%  dari  t,  tetapi  tidak  boleh melebihi  3 mm, kecuali  jika jarak antara  liang-liang  renik adalah  25 mm atau lebih, ukuran liang renik diperkenankan 30% dari t, tetapi tidak boleh melebihi 6 mm.

f.    Pada panjang las 2 t, tetapi tidak lebih dari 25 mm, diperkenankan terdapat jumlah luas kumpulan-kumpulan  liang-liang renik (clustered) dengan konsentrasi 0,04 x 25,4 x t mm2 atau t mm2

g.   Liang-liang  renik  yang  berjajaran  dapat  diterima  apabila  jumlah  diameter  dari liang-liang  renik tidak melebihi pada panjang 12 t untuk < 12,5 mm dari pada panjang 150 mm untuk t> 12,5 mm dengan jarak antana liang-liang renik tidak kurang dari 6x diameter liang renik terbesar.

(2) Penentuan  liang-liang  renik  untuk  tebal  pelat  diantara  dua  gambar  pembanding menurut   tebal  pelat  yang  tertipis   dari  dua  gambar   pembanding   tersebut   atau disesuaikan dengan tabel dan gambar tersebut pada Lampiran III.

(3) Noda-noda hitam dengan bentuk bulat atau oval diinterprestasikan sebagai liang renik (gelembung gas).

(4) Ketentuan  tersebut  ayat  (1)  huruf  d  s/d  dapat  digunakan  untuk  bahan  feritik, austenitik, logam besi dan kantong wofrani (tungsten incusions).

(5) Tembusan  las  atau  pembakaran  las  yang  kurang  dari  hasil  pengujian  radiografis tersebut  ayat  (1) diperbolehkan  dalam  batas-batas  tertentu  sesuai  dengan  pasal  14 huruf c.

Pasal 16

(1) Untuk  pengujian  makroskopis  benda  coba  diambil  dari  bagian  percobaan  las  dari posisi las tersukar atau dari bagian yang menurut pengujian radiografis mengandung cacat las.

(2) Penampang las melintang dari benda coba tersebut ayat (1) poles dan dietsa sampai bentuk las tampak dengan jelas.

(3) Penilaian  penampang  las  tersebut  ayat  (2)  tidak  boleh  mengandung  cacat  sebagai berikut:

a.   retak;

b.   pembakaran atau tembusan las yang kurang, melebihi batas yang ditentukan pada pasal 14 huruf c dan d;

c.   ukuran liang renik dan atau terak yang bertebaran melebihi batas yang di tentukan pada pengujian radiografis sebagaimana  tersebut pasal 15 ayat (1) huruf b,c,e,f, dan g.

Pasal 17

(1) Dalam  pengujian  sifat  mekanis  dilakukan  dengan  2 (dua)  percobaan  lengkung  las muka dan 2 (dua) percobaan lengkung.

(2) Tebal duri D maksimum untuk percobaan lengkung tersebut ayat (1) sesuai dengan Lampiran I  tabel 8 dan jarak L antara kedua rol tidak boleh lebih dari D + 2, 2T.

(3) Pengambilan batang-batang coba Iengkung tersebut ayat (1) sesuai dengan Lampiran II Gambar 3, 4, 5, 6, 7 dan 8.

BAB IV

BATAS BERLAKUNYA BAHAN CONTOH PERCOBAAN LAS

Pasal 18

Kelompok bahan dan batas berlakunya jenis logam untuk contoh percobaan las bagi ujian juru las sesuai dengan lampiran I tabel 10 dan 11.

Pasal 19

(1) Bahan induk yang akan digunakan untuk percobaan las dikelompokan sesuai dengan Lampiran I tabel 10.

(2) Berlakunya contoh percobaan las tersebut ayat (1) sesuai dengan Lampiran I tabel 11.

Pasal 20

Bahan pengisi fluksi dari gas terdiri dari:

a.   Las busur listrik. b.   Las karbit.

c.   Las busur listrik TIG (tungsten Innert gas welding)

d.   Las busur listrik submerged.

Pasal 21

(1) Untuk las busur elektroda las dibagi dalam kelompok sesuai lampiran I tabel 2.

(2) Penggantian  dari suatu kelompok elektroda las dengan kelompok elektroda las lain harus diadakan uji ulang, kecuali untuk nomor I sampai dengan nomor 4 b dengan jumlah unsur paduan tidak melebihi 6% dan berlaku untuk kelompok elektroda las nomor 4c sampai dengan nomor 6 seperti tercantum lampiran I tabel 12.

Pasal 22

(1) Untuk las karbit, kawat las dibagi dalam kelompok sesuai dengan Lampiran I tabel 13. (2) Penggantian  dari suatu kelompok kawat las dengan kelompok kawat las lain harus diuji ulang.

Pasal 23

(1) Untuk las busur listrik TIG (Tungsten Innert Gas Welding) kawat las dibagi dalam kelompok sesuai dengan Lampiran 1 tabel 14.

(2) penggantian dari suatu kelompok kawat las dengan kelompok kawat lain harus diuji ulang.

(3) Penggantian  dari suatu jenis gas tunggal  dengan gas tunggal  lain atau dengan gas campuran harus diuji ulang.

Pasal 24

(1) Untuk  las  busur  listrik  submerged,  elektroda  las  dibagi  dalam  kelompok  sesuai dengan Lampiran 1 tabel 15.

(2) Penggantian  elektroda las dengan kadar Mn (1,75% – 2,25%) dengan elektroda las dengan kadar Mn kurang dari 1,00% atau sebaliknya harus diuji ulang.

(3) Penggantian tipe atau komposisi fluks harus diuji ulang.

(4) Penggantian ukuran butir-butir fluks tidak perlu diuji ulang.

Pasal 25

Posisi percobaan las berlaku untuk posisi las tertentu sesuai dengan Lampiran 1 tabel 9.

Pasal 26

Percobaan  dari suatu proses  las ke proses  las yang lain atau ke proses las kombinasi diperlukan uji ulang.

BAB V

KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal 27

Pengelasan contoh pèrcobaan las seperti pada Lampiran 1 tabel 2 dilakukan dari satu sisi tanpa pelat alas dan berlaku untuk teknik pengelasan dari 2 (dua) sisi dan dari satu sisi dengan atau tanpa pelat alas.

Pasal 28

(1) Bagi  juru  las  yang  telah  menempuh  ujian  juru  las  dan  lulus  dengan  kwalifikasi golongan I (satu) sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini tetap diakui sebagai juru las kelas I (satu) sedangkan juru las golongan II (dua) dan golongan III (tiga) ditinjau kembali.

(2) Peninjauan kembali juru las golongan II (dua) dan golongan III (tiga) tersebut ayat (1) ditetapkan oleh Direktur.

BAB VI

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 29

(1) Juru  las  yang  telah  menempuh  ujian  juru  las  dengan  hasil  memuaskan  diberikan sertifikat juru las sesuai dengan kwalifikasinya disertai buku kerja juru las.

(2) Sertifikat juru las dan buku kerja juru las tersebut ayat (1) dikeluarkan oleh Direktur.

Pasal 30

(1) Pengawasan juru las dilakukan oleh Pegawai Pengawas.

(2) Juru  las  yang  dianggap  tidak  terampil,  sertifikat  dan  buku  kerjanya  dicabut  oleh Direktur atas usul Pegawai Pengawas.

Pasal 31

Setiap 3 (tiga) bulan sekali Pengurus atau juru las harus memperlihatkan buku kerja juru las kepada Pegawai Pengawas setempat untuk dicatat dan diketahui.

Pasal 32

Pengurus  wajib  melaksanakan  dan  bertanggung  jawab  terhadap  ditaatinya  Peraturan Menteri ini.

Pasal 33

Pengurus yang tidak mentaati ketentuan sebagaimana tersebut pasal 32 dihukum dengan hukuman  kurungan  selama-lamanya  3  (tiga  bulan  atau  denda  setinggi-tingginya  Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) sebagaimana dimaksud pasal 15 ayat (2) Undang undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Pasal 34

Pelaksanaan lebih lanjut dari Peraturan Menteri ini ditetapkan oleh Direktur.

Pasal 35

Segala peraturan yang mengatur kwalifikasi juru las yang bertentangan dengan Peraturan Menteri ini dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 36

Peraturan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan  di Jakarta

Pada tanggal 08 Maret 1982

MENTERI

TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

ttd.

HARUN ZAIN

Kami Butuh Bantuanmu

JIka ada kesalahan dalam penulisan lainnya silakan hubungi kami

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Yang lainnya