Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor : PER.02/MEN/1983 Tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik

PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER.02/MEN/1983

T E N T A N G

INSTALASI ALARM KEBAKARAN AUTOMATIK

MENTERI TENAGA KERJA

Menimbang:

a. bahwa  dalam rangka kesiapan siagaan  pemberantasan pada mula   terjadinya kebakaran maka setiap instalasi alarm kebakaran automatic harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kesehatan kerja; 

b. bahwa untuk itu perlu dikeluarkan Peraturan Menteri yang mengaturinstalasi Alarm Kebakaran Automatik.

Mengingat:

1. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja  (Lembaran Negara Republik Indonesia No. 1 Tahun 1970 No. 2918).

2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Per 03/Men/1978 tentang Persyaratan Penunjukan dan Wewenang serta Kewajiban Pegawai Pengawas Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Ahli Keselamatan Kerja

M E M U T U S K A N

Menetapkan   :      PERATURAN      MENTERI      TENAGA      KERJA      TENTANG INSTALASI ALARM KEBAKARAN AUTOMATIK.

BAB  I

KETENTUAN UMUM

Pasal  1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:

a.   Instalasi Alarm Kebakaraan Automatik adalah sistem atau rangkaian alarm kebakaran yang menggunakan detektor panas, detektor asap, detektor nyala api dan titik panggil secara   manual   serta   perlengkapan   lainnya   yang   dipasang   pada   sistem   alarm kebakaran;

b.   Kelompok alarm adalah bagian dari sistem alarm kebakaran termasuk relai, lampu, saklar, hantaran dan detektor sehubungan dengan perlindungan satu area;

c.   Detektor  lini  adalah  detektor  yang  unsur  perasa  ataupenginderaannya   berbentuk batang atau pita;

d.   Titik panggil manual atau tombol pecah kaca adalah alat yang bekerja secara manual dan   alarmnya   tidak   dapat   dioperasikan   sepanjang   kaca   penghalangnya   belum dipecahkan;

e.   Ruang kontrol  adalah ruangan dimana panil indikator ditempatkan;

f.    Detektor   adalah   alat   untuk   mendeteksi    pada   mula   kebakaran    yang   dapat membangkitkan alarm dalam suatu sistem;

g.   Panil indikator  adalah suatu panil kontrol utama yang dilengkapi  indikator  beserta peralatannya;

h.   Detektor panas adalah suatu detektor yang sistem bekerjanya didasarkan atas panas;

i.     Detektor   nyala   api   (flamedetektor)   adalah   detektor   yang   sistem   bekerjanya didasarkan atas panas api;

j.     Detektor  asap (smoke detector)  adalah detektor yang sistem bekerjanya  didasarkan atas asap;

k.   Panil  mimik  adalah  panil  tiruan  yang  memperlihatkan  indikasi  kelompok  alarm kedalam bentuk diagram ataau gambar;

l.     Panil  pengulang  adalah  suatu  panil  indikator  kebakaraan  duplikat  yanga  hanya berfungsi memberi petunjuk saja dan tidak dilengkapi peralatan lainnya;

m.  Tegangan ekstra rendah adalah tegangan antara fasa dan nol, paling tinggi 50 volt;

n.   Sistem penangkap asap (sampling device) adalah suatu rangakaian yang terdiri dari penginderaan dengan alat-alat penangkap asapnya;

o.   Pengurus   adalah   orang   atau   badan   hukum   yang   bertanggung   jawab   terhadap penggunaan instalasi alarm kebakaraan automatik;

p.   Pegawai Pengawas atau Ahli Keselamatan Kerja adalah Pegawai Teknis berkeahlian khusus yang ditunjuk oleh Menteri sesuai dengan Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamaan Kerja;

q.   Direktur    adalah    Direktur    Jenderal    Pembinaan    Hubungan    Perburuhan    dan Perlindungan tenaga Kerja sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja, Transkop No. Kepts.-79/Men1977;

r.   Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab dalam bidang ketenagakerjaan.

Pasal  2

Peraturan   ini   mulai   berlaku   untuk   perencanaan,   pemasangan,   pemeliharaan,   dan pengujian instalasi alarm kebakaran automatik di tempat kerja.

Pasal  3

(1) Detektor  harus  dipasang  pada  bagian  bangunan  kecuali  apabila  bagian  bangunan tersebut telah dilindungi dengan sistem pemadam kebakaran automatik.

(2) Apabila detektor-detektor dipasang dalam suatu ruangan aman yang tahan api (strong room), maka detektor-detektor tersebut harus memiliki kelompok alarm yang terpisah atau  harus  terpasang  dengan  alat  yang  dapat  mengindikasi  sendiri  yang  dipasang diluar ruangan tersebut.

(3) Setiap ruangan harus dilindungi secara tersendiri dan apabila suatu ruangan terbagi oleh dinding pemisah atau rak yang mempunyai celah 30 (tiga puluh) cm kurang dari langit-langit atau dari balok melintang harus dilindungi secara sendiri sendiri.

(4) Barang-barang  dilarang  untuk  disusun  menumpuk  seolah-olah  membagi  ruangan, kecuali untuk ruang demikian telah diberikan perlindungan secara terpisah.

Pasal  4

(1) Pada gedung yang dipasang sistem alarm kebakaran automatik maka untuk ruangan tersembunyi  harus dilindungi  dan disediakan  jalan untuk pemeliharaannya,  kecuali hal-hal sebagai berikut:

a.   ruangan  tersembunyi  dimana  api kebakaran  dapat  tersekat  sekurang-kurangnya selama satu jam;

b.   ruangan tersembunyi yang berada diantara lantai paling bawah dengan tanah yang tidak   berisikan   perlengkapan   listrik   atau   penyimpanan   barang   dan   tidak mempunyai jalan masuk;

c.   ruangan tersembunyi dengan jarak kurang dari 80 (delapan puluh) cm di bawah atap;

d.   ruangan  tersembunyi  dengan  jarak  kurang  dari  80  (delapan  puluh)  cm  yang terletak diantara langit-langit palsu dan lembaran tahan api di atasnya.

e.   ruangan  tersembunyi  dengan  jarak  kurang  dari  35  (tiga  puluh  lima)  cm  yang terletak  diantara  permukaan  sebelah  langit-langit  dengan  permukaan  sebelah bawah lantai atasnya tanpa menghiraukan konstruksinya.

(2) Apabila suatu ruangan tersembunyi dengan jarak kurang dari 80 (delapan puluh) cm sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) c dan d terdapat peralatan listrik yang dihubungkan dengan hantaran utama dan peralatan listrik tersebut tidak diselubungi dengan bahan yang tidak dapat terbakar, maka pada ruangan tersebut harus dipasang detektor dengan jarak 6 (enam) m dari lokasi peralatan listrik tersebut.

Pasal  5

(1) Setiap perlengkapan listrik seperti papan saklar, papan pengukur dan sejenisnya yang memiliki luas permukaan melampaui 1,5 (satu setengah) m2 dan ditempatkan dalam almari, maka almari itu harus dipasang detektor, kecuali bila perlengkapan tersebut secara sepenuhnya terselubung dalam bahan yang tidak dapat terbakar.

(2) Setiap  perlengkapan  hubung  bagi  yang  tidak  ditempatkan  secara  masuk  ke dalam tembok  harus  dianggap  sebagai  telah  dilindungi  oleh  perlindungan  normal  bagi daerah yang bersangkutan

(3) Setiap perlengkapan  hubung bagi yang terbuat dari bahan yang tidak terbakar dan pemasangannya dimasukan ke dalam tembok tidak perlu dipasang detektor

Pasal  6

(1) Setiap almari dalam tembok yang memiliki tinggi lebih dari 2 (dua) m atau tingginya mencapai  langit-langit  serta  mempunyai  isi  lebih  dari  3  (tiga)  m3  harus  dipasang detektor.

(2) Almari seperti tersebut ayat (1) tidak diperlukan pemasangan detektor bila ruangan- nya  terbagi-bagi   oleh  pemisah   atau  rak-rak  sehingga   menjadi  bilik-bilik   yang mempunyai isi kurang dari 3 (tiga) m3.

Pasal  7

Almari  tembok  tempat  kain  atau  sejenisnya  tanpa  menghiraukan   ukurannya  harus dipasang detektor.

Pasal  8

(1) Lubang  untuk  sarana  alat  pengangkut,  peluncur  lift,  penaik  vertikal  dan  lubang sejenisnya  dengan  luas  lebih  dari  0,1  (satu  persepuluh)  m2   dan  kurang  dari  9 (sembilan) m2 serta kedap.

(2) Bila lubang  seperti  tersebut  dalam ayat (1) tidak kedap kebakaran,  maka detektor harus dipasang di setiap langit-langit  lantai dengan jarak horizontal tidak lebih 1,5 (satu setengah) m dari lubangnya.

(3) Setiap  daerah  diantara  dua  lantai  yang  memiliki  lubang  dengan  luas  lebih  dari  9 (sembilan) m2, maka disetiap tingkat harus dipasang satu detektor pada langit-langit dengan jarak 1,5 (satu setengah) m dari sisi lubang.

(4) Bila lubang seperti tersebut dalam ayat (1) dengan pintu tahan api dan dapat menutup sendiri secara automatik tidak perlu dipasang detektor pada setiap lantainya.

Pasal  9

Ruang bangunan tangga dalam bangunan yang kedap kebakaran harus dipasang detektor di atasnya sedangkan untuk ruang bangunan tangga yang tidak kedap kebakaran harus dipasang detektor pada setiap permukaan lantai utamanya.

Pasal  10

(1) Bila pintu tahan api memisahkan daerah yang dilindungi dengan daerah yang tidak dilindungi, maka harus dipasang detektor di daerah yang dilindungi dengan jarak 1,5 (satu setengah) m dari pintu tersebut.

(2) Bila pintu tahan api memisahkan  dua daerah yang dilindungi  penempatan  detektor seperti ayat (1) tidak diperlukan.

Pasal  11

Setiap lantai gedung dimana secara khusus  dipasang  saluran pembuangan  udara harus dilindungi sekurang-kurangnya satu detektor asap atau sejenisnya yang ditempatkan pada saluran mendatar lubang pengisap sedekat mungkin dengan saluran tegaknya.

Pasal  12

(1) langit-langit yang membentuk kisi-kisi dengan luas yang terbuka lebih dari 2/3 (dua per tiga) luas seluruh langit-langit  tidak diperlukan  detektor  di bawah langit-langit tersebut dan detektor dipasang pada langit-langit sebelah atasnya.

(2) Apabila bagian langit-langit yang berbentuk kisi-kisi mempunyai ukuran tiap kisinya dengan salah satu sisi lebih dari 2 (dua) m dan luasnya lebih dari 5 (lima) m2 harus dipasang detektor di bawahnya.

(3) Bila digunakan detektor nyala api untuk maksud langit-langit seperti ayat (1), maka detektor harus dipasang pada bagian atas dan bawah dari langit-langit tersebut.

Pasal  13

(1) Dinding luar dari bangunan yang akan dilindungi terbuat dari baja yang digalvanisasi, kayu, semen, asbestos atau bahan semacam itu maka harus dipasang detektor bila:

a.   bangunan  tersebut berada pada jarak 9 (sembilan)  m dari bangunan  yang tidak dilindungi yang terbuat dari bahan yang sama.

b.   bangunan tersebut berada pada jarak 9 (sembilan) m dari gudang (tempat penim- bunan) bahan-bahan yang mudah terbakar.

(2) Detektor  tersebut  ayat  (1)  harus  ditempatkan  di  bawah  emperan  atap  sepanjang dinding luar dengan jarak 12 (dua belas) m satu dengan lainnya.

Pasal  14

Rumah Penginapan, Unit Perumahan yang tidak terbagi dan semacamnya yang memiliki bentuk yang tidak lazim serta merupakan hunian tunggal dengan luas tidak lebih dari 46 (empat puluh enam) m2  cukup dilindungi dengan sebuah detektor sedang kamar mandi dan kakusnya tidak diperlukan perlindungan khusus.

Pasal  15

Bila gedung memiliki atap tidak datar yang berbentuk gigi gergaji prisma atau sejenisnya harus dipasang satu deretan detektor dengan jarak tidak lebih dari 1 (satu) m dari garis tegak lurus di bawah bubungan atapnya dan kelandaian atap lebih kecil dari 1 (satu) : 20 (dua puluh) dianggap beratap datar.

Pasal  16

Lokasi atau area yang tidak memerlukan pemasangan detektor adalah:

a.   kakus tunggal, kamar mandi/pancuran atau kamar mandi tunggal;

b.   berada terbuka dengan deretan tiang kolom, jalanan beratap atau atap yang meng- gantung dan sebagainya jika terbuat dari bahan yang tidak dapat terbakar dan ruangan tersebut  tidak  dipakai  untuk  menyimpan  barang  ataupun  sebagai  tempat  parkir mobil/kendaraan;

c.   pelataran, kap penutup, saluran dan sejenisnya yang lebarnya kurang dari 2 (dua) m serta tidak menghalangi mengalirnya udara yang harus bebas mencapai detektor yang terpasang di atasnya.

Pasal  17

Semua permukaan  kontak  listrik dari saluran  sistem harus memiliki  kontak yang baik dengan permukaan yang rata dan terbuat dari perak atau bahan sejenisnya.

Pasal  18

Detektor, pemancar berita kebakaran dan panil indikator harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga alat tersebut secara normal tidak terganggu oleh getaran atau goncangan yang dapat menimbulkan operasi palsu dari sistem.

Pasal  19

(1) Perlengkapan  yang  akan  ditempatkan  pada  lokasi  yang  mengandung  kelembaban, korosi atau keadaan khusus yang lainnya, maka disain dan konstruksi harus menjamin bekerjanya sistem tanpa meragukan.

(2) Peralatan serta perlengkapan yang dipasang pada ruangan yang mengandung gas atau debu yang mudah terbakar atau meledak, maka peralatan serta perlengkapan tersebut harus memenuhi persyaratan untuk penggunaan ruangan tersebut.

Pasal  20

Panil indikator harus dilengkapi dengan:

a.   fasilitas kelompok alarm;

b.   sakelar reset alarm;

c.   pemancar berita kebakaran;

d.   fasilitas pengujian dan pemeliharaan;

e.   fasilitas pengujian baterai dengan volt meter dan amper meter;

f.   sakelar penguji beterai;

g.   indikator adanya tegangan listrik;

h.   sakelar  yang  dilayani  secara  manual  serta  lampu  peringatan  untuk  memisahkan lonceng dan peralatan kontrol jarak jauh (remote control);

i.    petunjuk alarm yang dapat didengar.

j.    sakelar petunjuk bunyi untuk kesalahan rangkaian.

Pasal  21

(1) Panil indikator harus ditempatkan dalam bangunan pada tempat yang aman, mudah terlihat dan mudah dicapai dari ruangan masuk utama dan harus mempunyai ruang bebas 1 (satu) m di depannya.

(2) Apabila panil indikator di disain untuk dapat melakukan pemeliharaan dari belakang panil, maka harus diadakan ruangan bebas 1 (satu) m.

(3) Apabila  panil  indikator  ditempatkan  dibelakang  pintu,  maka  pintu  tersebut  harus diberi tanda sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 dan tidak boleh dikunci.

(4) Menyimpang  dari ketentuan  sebagaimana  dimaksud  dalam ayat (1) panil indikator dapat ditempatkan pada tempat yang jauh dari ruangan masuk utama dengan syarat harus dipasang panil mimik atau panil pengulang secara jelas kelihatan dari ruangan masuk utama.

Pasal  22

Setiap kelompok alarm harus dilengkapi dengan:

a.   indikator alarm yang berupa lampu merah atau sarana lain yang setaraf.

b.   indikator yang mengeluarkan  isyarat palsu yang berupa lampu kuning. atau isyarat lain yang setaraf dan indikator tersebut dapat digunakan  untuk beberapa kelompok alarm.

c.   penguji  alarm berupa fasilitas  pengujian  untuk  simulasi  detektor  dalam membang- kitkan alarm.

d.   penguji kepalsuan fasilitas pengujian kesalahan.

e.   sakelar  penyekat   dilengkapi   lampu  putih  dengan  tulisan  “SEKAT”   dan  untuk indikator gabungan dengan tulisan “SEKAT KELOMPOK”.

f.    tanda pengenal untuk sakelar atau indikator yang ditempatkan di bagian depan panil indikator.

Pasal  23

Pada panil indikator harus dipasang suatu isyarat yang dapat terlihat dan terdengar dari jarak jauh yang bekerja apabila ada sebuah detektor atau terjadi suatu rangkaian terbuka.

Pasal  24

Pada bagian depan panil indikator harus dipasang:

a.   amper meter jenis kumparan dengan batas ukur yang sesuai atau lampu berwarna biru untuk menunjukan pengisian atau pengosongan;

b.   volt meter jenis kumparan dengan batas ukur yang sesuai dan dipasang tetap;

c.   sakelar  penguji  baterai  dengan  kemampuan  uji  3  (tiga)  kali  beban  penuh  dalam keadaan  sakelar  pengisi  terbuka  dan  sakelar  tersebut  harus  dari  jenis  yang  tidak mengunci yang dapat meriset sendiri.

Pasal  25

Lampu panil indikator bila digunakan lampu jenis kawat pijar harus dari jenis kawat pijar kembar  dengan  kedudukan  bayonet  atau  dua  lampu  pijar  tunggal  dan  tegangan  yang masuk tidak boleh lebih dari 80 (delapan puluh) %  tegangan lampu.

Pasal  26

(1) Penyusunan  indikator  harus sedemikian  rupa, sehingga  bekerjanya  setiap indikator dapat menunjukan secara jelas asal suatu panggilan.

(2) Apabila luas bangunan atau lokasi detektor mungkin menunjukan semua lokasi secara tepat  pada  panil  indikator   maka  penyusunan   dan  penempatan   indikator   dapat dilakukan pada suatu panil yang terpisah didekatnya dengan diberi tanda secara permanen.

Pasal  27

(1) Pengawatan dari bagian tegangan ekstra rendah pada panil indikator, panil pengulang atau panil mimik harus menggunakan kabel PVC atau yang sederajat dengan ukuran yang sesuai.

(2) Kabel sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1) harus terdiri dari sekurang-kurangnya (tujuh) urat dengan garis tengah tidak kurang dari 0,67 (enam puluh tujuh per seratus) mm.

(3) Bagian  tegangan  ekstra  rendah  panil  indikator,  panil  pengulang  atau  panil  mimik harus  dilakukan  pengawatan  dengan  hantaran  yang  nilai  penyekatnya  mampu  ter- hadap tegangan 250 (dua ratus lima puluh) volt.

Pasal  28

(1) Pada atau didekat panil indikator harus dipasang titik panggil manual yang mudah dicapai serta terlihat jelas setiap waktu.

(2) Semua titik panggil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dihubungkan dengan kelompok alarm detektor automatik yang meliputi daerah dimana titik panggil manual tersebut dipasang.

(3) Penutup  titik  panggil  manual  harus  jenis  “pecah  kaca”  atau  dari  jenis  lain  yang disetujui oleh Pegawai Pengawas.

(4) Titik  panggil  manual  yang  tidak  merupakan  bagian  dari  panil  indikator  harus disambung  menurut  ketentuan  sebagaimana  dimaksud  dalam  Pasal  23  (dua  puluh tiga) dan Pasal 49 (empat puluh sembilan)

Pasal  29

(1) Lemari panil indikator kebakaran harus kedap debu dan mempunyai pintu yang dapat dikunci.

(2) Semua indikator kelompok dan sakelarnya yang berada di dalam lemari tersebut harus tetap tampak dari luar tanpa membuka pintu almarinya.

Pasal  30

(1) Panil  indikator  harus  diberi  tanda  secara  permanen  dan jelas  tentang  pabrik  pem- buatnya dan disertai tipe dari panil dan nomor pengesahan sistem alarmnya.

(2) Apabila lemari panil indikator ditempatkan  disebuah ruangan khusus, maka bagian depan pintu ruangan tersebut harus diberi tulisan “PANIL INDIKATOR KE- BAKARAN” dengan warna yang kontras terhadap warna disekitarnya.

(3) Pintu sebagaimana  dimaksud dalam ayat (2) tidak boleh memiliki tanda lain selain tulisan “PANIL INDIKATOR KEBAKARAN” dengan tinggi huruf tidak kurang dari 50 (lima puluh) mm.

Pasal  3l

(1) Setiap  sistem  alarm  kebakaran  harus  mempunyai  gambar  instalasi  secara  lengkap yang mencantumkan letak detektor dan kelompok alarm.

(2) Gambar instalasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus sesuai dengan instalasi yang terpasang sebenarnya dan disahkan oleh Direktur atau Pejabat yang ditunjuk.

Pasal  32

Penggunaan  simbol  dalam  sistem  alarm  kebakaran  harus  sesuai  dengan  lampiran  Per aturan Menteri ini.

Pasal  33

(1) Setiap  instalasi  alarm  kebakaran  harus  mempunyai  buku  akte  pengesahan  yang dikeluarkan oleh Direktur.

(2) Selain buku akte pengesahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus disediakan pula buku catatan yang ditempatkan di ruangan panil indikator.

(3) Buku catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) digunakan untuk mencatat semua peristiwa alarm, latihan, penggunaan alarm dan pengujiannya.

(4) Buku akte pengesahan dan buku catatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan (2) harus ditunjukan kepada Pegawai Pengawas atau Ahli kepada Pegawai Pengawas atau Ahli Keselamatan Kerja.

Pasal  34

(1) Setiap kelompok alarm harus dapat melindungi maximum 1000 (seribu) m2 luas lantai dengan ketentuan  jumlah detektor  dan jarak penempatannya  tidak boleh lebih dari yang ditetapkan dalam Pasal 6 s/d 65 atau Pasal 72 dan 78 dengan mengingat jenis detektornya.

(2) Setiap lantai harus ada kelompok alarm kebakaran tersendiri.

(3) Apabila pada lantai yang bersangkutan terdapat ruangan yang dipisahkan oleh dinding tahan kebakaran yang tidak dapat dicapai melalui lantai itu, maka ruangan tersebut harus memiliki kelompok alarm kebakaran tersendiri.

Pasal  35

Menyimpang dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) di atas batas luas lantai untuk satu kelompok alarm kebakaran dapat diperluas areanya dengan syarat sebagai berikut:

a.   dalam bangunan yang tidak bertingkat  dan tidak terbagi-bagi  satu kelompok  alarm kebakaran dapat melindungi area maksimum 2000 (dua ribu) m2 luas lantai;

b.   ruangan  tersembunyi  dengan luas tidak lebih dari 500 (lima ratus) m2  detektornya dapat dihubungkan dengan kelompok alarm kebakaran yang berada di bawahnya, jika jumlah luas yang dilindungi tidak lebih dari 1000 (seribu) m2;

c.   lantai panggung (mezzanine) detektornya dapat dihubungkan dengan kelompok alarm kebakaran lantai di bawahnya bila jumlah luas yang dilindungi tidak lebih dari 1000 (seribu) m2.

Pasal  36

Sumber tenaga listrik untuk sistem alarm kebakaran harus dengan tegangan tidak kurang dari 6 (enam) Volt.

Pasal  37

(1) Sumber  tenaga  listrik  sebagaimana  dimaksud  dalam Pasal  36 harus  dalam  bentuk baterai akimulator yang diisi terus-menerus dengan pengisi baterai.

(2) Sumber tenaga listrik sebagaimana  dimaksud Pasal 36 dalam bentuk baterai kering tidak boleh digunakan kecuali dalam keadaan khusus dan diijinkan oleh Pegawai Pengawas.

(3) Suatu  pembatas  rangkaian  yang  dapat  memutus  dan  menyambung  sendiri  harus dipasang di dalam rangkaian antara baterai dengan sistemnya dan ditempatkan dekat baterai.

Pasal  38

(1) Pengisi baterai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) harus dapat mengisi secara terus menerus sehingga tegangan baterai akimulator tetap.

(2) Pengisi baterai sebagaimana  dimaksud  dalam ayat (1) harus terpasang  tetap (tanpa kontak tusuk) dan dihubungkan pada sisi pemberi arus dari papan hubung atau sakelar utama.

(3) Pengisi baterai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat disambung pada bagian beban sakelar tersebut, dengan syarat sakelarnya diberi tanda yang jelas untuk sistem alarm kebakaran.

(4) Suatu sakelar pemisah untuk sumber tenaga pengisi baterai harus dipasang di dekat pengisi baterai tersebut.

(5) Sakelar  pemisah  sebagaimana  dimaksud  dalam  ayat  (4)  harus  dipasang  di  dalam lemari panil indikator.

Pasal  39

Baterai akimulator sistem alarm kebakaran harus mampu bertahan selama sekurang- kurangnya 4 (empat) hari penuh untuk memberikan isyarat secara normal tanpa adanya bantuan dari pemberi arus utama.

Pasal  40

Baterai akimulator harus ditempatkan di ruangan terpisah pada tempat yang kering, berventilasi yang cukup, mudah dicapai untuk suatu pemeriksaan serta di dalam lemari yang terkunci atau suatu tempat yang hanya bisa dibuka dengan menggunakan suatu alat dan bagian dalamnya harus dilindungi dari korosi.

Pasal  41

Perlengkapan   tambahan   yang  tidak  merupakan   peralatan  pokok  dari  sistem  alarm kebakaran yang telah disahkan dapat dihubungkan lewat relai dengan syarat bahwa alat perlengkapan tambahan tersebut tidak mengganggu bekerjanya sistem.

Pasal  42

(1) Tegangan yang lebih dari tegangan ekstra rendah untuk pelayanan jarak tidak boleh ke panil indikator.

(2) Ketentuan  sebagaimana  dimaksud  dalam  ayat  (1)  tidak  berlaku  tegangan  sumber tenaga utama untuk panil indikator.

(3) Apabila  digunakan   alat  tambahan   seperti   alat  pengendali   springkler,   CO2,  air conditioning  dan  sebagaimana  yang  bergabung  dengan  instalasi  alarm  kebakaran harus disediakan  sumber tenaga dengan tegangan  ekstra rendah dan alat tambahan tersebut tidak boleh mempengaruhi sumber daya instalasi alarm kebakaran.

Pasal  43

(1) Apabila  digunakan  sakelar  aliran  air  (flow  switch),  sakelar  tekanan  air  (pressure switch)  dan  sejenisnya  untuk  menggerakan  alarm  kebakaran  yang  berhubungan dengan instalasi pemadam kebakaran bentuk tetap seperti springkler, CO2, dan sebagainya,  dapat disambung  sebagai kelompok  alarm terpisah dan panil indikator alarm atas persetujuan Direktur atau pejabat yang ditunjuk.

(2) Penggunaan  sakelar aliran air (flow switch) dan sejenisnya  sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1) yang disambung khusus untuk keperluan isyarat saja, harus dike- lompokan terpisah dari indikator alarm.

Pasal  44

(1) Sistem alarm kebakaran harus dilengkapi sekurang-kurangnya sebuah lonceng.

(2) Lonceng sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dipasang di luar bangunan dan dapat terdengar dari jalan masuk utama serta dekat dengan panil indikator.

(3) Sirene,  pengaum  atau  sejenisnya  dapat  dipakai  sebagai  pengganti  lonceng  atas persetujuan Direktur atau pejabat yang ditunjuk.

Pasal  45

(1) Lonceng harus dari jenis bergetar dan bekerjanya dengan sumber tenaga baterai.

(2) Lonceng harus dipasang dengan sebuah genta yang berdiameter sekurang-kurangnya 150 (seratus lima puluh) mm;

(3) Gangguan pada sirkit lonceng tidak boleh mempengaruhi berfungsinya alarm.

(4) Sirkit lonceng harus diamankan dengan sebuah pengaman arus lebih yang sesuai.

(5) Lonceng  yang  dipasang  di  luar  bangunan  harus  dari  jenis  konstruksi  yang  tahan cuaca.

(6) Pada  lonceng  harus  ditulis  “KEBAKARAN”   dengan  warna  kontras  dan  tinggi hurufnya tidak kurang dari 25 (dua puluh lima) mm.

Pasal  46

Pengawatan sistem alarm kebakaran harus dipasang sesuai ketentuan pegawatan instalasi tegangan ekstra rendah, kecuali yang ditetapkan dalam Pasal 47.

Pasal  47

(1) Semua hantaran sistem alarm kebakaran harus dari jenis yang disiplin.

(2) Penampang hantaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sekurang-kurangnya  1,2 (dua belas per sepuluh) mm2, sedangkan lubang kabel ini harus sekurang-kurangnya berinti empat dan setiap inti terdiri 10 (sepuluh) urat dengan diameter tidak kurang dari 0,25 (dua puluh lima per seratus) mm.

(3) Tebal salut hantaran sekurang-kurangnya  0,25 (dua puluh lima per seratus) mm dari tebal selubung sekurang-kurangnya 1 (satu) mm.

Pasal  48

Hantaran sistem alarm kebakaran antar gedung harus dari jenis yang dapat ditanam dan harus diberi perlindungan terhadap kerusakan mekanik.

Pasal  49

(1) Pengawatan  dengan  sistem  lingkar  masuk  (loop  in  system)  harus  dipakai  pada detektor yang dihubungkan paralel dan setiap hantaran yang masuk dan keluar dengan tegangan  yang  sama  harus  disambung  pada  sekrup  tersendiri  pada  terminal  yang sama.

(2) Sepanjang hantaran tidak boleh ada sambungan kecuali pada pengawatan yang sangat panjang atau untuk menyambung hantaran fleksible yang menurun.

(3) Sambungan hanya diperkenankan dalam kotak terminal tertutup.

Pasal  50

(1) Terjadinya  kontak  antara  yang  bertegangan  dengan  langit-langit  dimana  dipasang detektor harus dicegah.

(2) Bila  suatu  detektor  dipasang  dengan  menggunakan  hantaran  fleksible  berisolasi ganda, maka hantaran fleksible itu tidak boleh lebih panjang dari 1,5 (satu sete-  ngah) m.

(3) Diameter   hantaran   fleksible   sebagaimana   dimaksud   dalam   ayat   (2)   sekurang- kurangnya 0,75 (tujuh puluh lima per seratus) mm dan harus memiliki jepit hantaran pada setiap ujungnya.

Pasal  51

Detektor dapat dilengkapi dengan alat indikator dengan syarat bila ada gangguan pada indikator tersebut tidak mempengaruhi berfungsinya detektor.

Pasal  52

Pengawatan sistem alarm kebakaran harus terpisah dari pengawatan instalasi tenaga dan atau penerangan.

Pasal  53

Semua  detektor  kecuali  detektor  yang  dipasang  pada  etalase  toko  harus  diusahakan ruangan bebas sekurang-kurangnya dengan radius 0,3 (tiga per sepuluh) m dengan kedalaman 0,6(enam per sepuluh) m.

Pasal  54

(1) Dalam satu sistem alarm kebakaran boleh dipasang detektor panas, asap dan nyala secara bersama dengan syarat  tegangannya harus sama.

(2) Detektor  yang  dipasang  sebagaimana  dimaksud  dalam  ayat  (1)  dapat  dilakukan dengan ketentuan satu detektor asap atau satu detektor nyala dapat menggantikan dua detektor panas.

Pasal  55

Bila  instalasi  kebakaran  automatik  yang  telah  ada  ditambah  maka  gabungan  instalasi tersebut harus diuji bahwa instalasinya menyatu dan berfungsi dengan baik serta disahkan oleh Direktur.

Pasal  56

(1) Tahanan isolasi setiap kelompok alarm terhadap tanah harus diuji dengan cara semua hantaran terhubung paralel dengan alat ukur tahanan isolasi.

(2) Alat ukur tahanan isolasi sebagaimana  dimaksud dalam ayat (1) harus mempunyai tegangan  24  (dua  puluh  empat)  volt  arus  searah  atau  dua  kali  tegangan  kerjanya dengan ketentuan pilih yang terbesar dan mempunyai tahan tidak boleh kurang dari nilai hasil bagi 50 (lima puluh) mega ohm dengan jumlah detektor, titik panggil dan lonceng atau satu mega ohm dengan ketentuan pilih yang terkecil.

BAB  II

PEMELIHARAAN DAN PENGUJIAN

Pasal  57

(1) Terhadap  instalasi  alarm  kebakaran  automatik  harus  dilakukan  pemeliharaan  dan pengujian berkala secara mingguan, bulanan dan tahunan.

(2) Pemeliharaan dan pengujian tahunan dapat dilakukan oleh konsultan kebakaran atau organisasi yang telah diakui oleh Direktur atau pejabat yang ditunjuk.

Pasal  58

Pemeliharaan  dan  pengujian  mingguan  lain  meliputi  :  membunyikan   alarm  secara simulasi, memeriksa kerja lonceng, memeriksa tegangan dan keadaan baterai, memeriksa seluruh sistem alarm dan mencatat hasil pemeliharaan serta pengujian buku catatan.

Pasal  59

Pemeliharaan  dan  pengujian  bulanan  antara  lain  meliputi  :  menciptakan  kebakaran simulasi,  memeriksa  lampu-lampu  indikator,  memeriksa  fasilitas  penyediaan  sumber tenaga darurat, mencoba dengan kondisi gangguan terhadap sistem, memeriksa kondisi dan kebersihan  panel  indikator  dan mencatat  hasil pemeliharaan  dan pengujian  dalam buku catatan.

Pasal  60

Pemeliharaan dan pengujian tahunan antara lain meliputi : memeriksa tegangan instalasi, memeriksa kondisi dan keberhasilan seluruh detektor serta menguji sekurang-kurangnya

20 (dua puluh) % detektor dari setiap kelompok instalasi sehingga selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) tahun, seluruh detektor sudah teruji.

BAB  III

SISTEM DETEKSI PANAS

Pasal  61

(1) Letak dan jarak antara dua detektor harus sedemikian rupa sehingga merupakan letak yang terbaik bagi pendeteksian adanya kebakaran yaitu:

a.   untuk  setiap  46 (empat  puluh  enam)  m2  luas lantai dengan  tinggi  langit-langit dalam keadaan rata tidak lebih dari 3 (tiga) m harus dipasang sekurang-kurangnya satu buah detektor panas.

b.   jarak  antara  detektor  dengan  detektor  harus  tidak  lebih  dari 7 (tujuh)  m kese- luruhan  jurusan  ruang  biasa  dan  tidak  boleh  lebih  dari  10  (sepuluh)  m dalam koridor.

c.   jarak detektor panas dengan tembok atau dinding pembatas paling jauh 3 (tiga) m pada ruang biasa dan 6 (enam) m dalam koridor serta paling dekat 30 (tiga puluh) cm.

(2) Detektor  panas  yang dipasang  pada ketinggian  yang berbeda  (staggered  principle) sekurang-kurangnya  satu  detektor  untuk  92  (sembilan  puluh  dua)  m2   luas  lantai dengan syarat:

a.   detektor disusun dalam jarak tidak boleh lebih 3 (tiga) m dari dinding;

b.   sekurang-kurangnya setiap sisi dinding memiliki satu detektor;

c.   setiap detektor berjarak 7 (tujuh) m.

Pasal  62

Jarak detektor panas dapat dikurangi dengan mengingat pertimbangan sebagai berikut:

a.   bila  daerah  yang  dilindungi  terbagi-bagi  oleh  rusuk,  gelagar,  pipa  saluran  atau pembagi semacam itu yang mempunyai kedalaman melampaui 25 (dua puluh lima) cm maka untuk setiap bagian yang berbentuk demikian harus ada sekurang-kurangnya sebuah detektor bila luas bagian tersebut melampaui 57 (lima puluh tujuh) m2, namun jika  langit-langitnya   terbagi   dalam  daerah   lebih  sempit,   maka  harus  dipasang sekurang-kurangnya satu detektor untuk luas 28 (dua puluh delapan) m2;

b.   bila letak langit-langit melampaui ketinggian 3 (tiga) m dari lantai, maka batasan luas lingkup untuk satu detektor harus dikurangi dengan 20 (dua puluh) % dari luas lingkupnya.

Pasal  63

(1) Ruangan  tersembunyi  yang mempunyai  ketinggian  tidak lebih dari 2 (dua)  m dan pemancaran panas kesamping tidak terhalang gelagar yang menjorok ke bawah dari langit-langit sedalam 50 (lima puluh) % dari tingginya harus dipasang sekurang- kurangnya satu detektor untuk 92 (sembilan puluh dua) m2  luas lantai dengan jarak antara detektor maximum 9 (sembilan) m serta jarak antara dinding tidak boleh lebih dari 6 (enam) m.

(2) Bila gelagar sebagaimana  dimaksud  dalam ayat (1) melampaui  50 (lima puluh) % tetapi tidak lebih dari 75 (tujuh puluh lima) % dan tinggi ruangan tersembunyi, maka berlaku ketentuan pasal 61 ayat (1) a.

(3) Bila gelagar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) melampaui 75 (tujuh puluh lima) %  dari  tinggi  ruangan  tersembunyi,   maka  tiap  ruangan  yang  terbagi  tersebut memenuhi ketentuan pasal 62.

(4) Bila  detektor  panas  dipasang  di puncak  lekukan  atap  ruangan  tersembunyi,  maka jarak antar detektor dalam arah memanjang tidak boleh lebih dari 9 (sembilan) m.

(5) Bila  atap  ruangan  tersembunyi  sebagaimana  dimaksud  dalam  ayat  (4)  itu  miring, maka deretan detektor yang terbawah terletak paling jauh 6 (enam) m secara hori- zontal terhitung dari satu titik yang mempunyai jarak vertikal dari permukaan. langit- langit sebelah atas dengan permukaan sebelah bawah atau sejauh 80 (delapan puluh) cm, kemudian jarak deretan detektor horizontal berikutnya harus 8 (delapan) m, sedangkan jarak arah memanjang dapat dilakukan maksimum 15 (lima belas) m.

Pasal  64

Pemasangan detektor harus diatur sedemikian rupa sehingga elemennya yang peka panas tidak boleh berada pada posisi kurang dari 15 (lima belas) m atau lebih dari 100 (seratus) mm  di  bawah  permukaan  langit-langit.  Apabila  terdapat  kerangka  penguat  bangunan detektor dapat dipasang pada sebelah bawah kerangka tersebut, asalkan kerangka itu tidak mempunyai kedalaman melampaui 25 (dua puluh lima) cm.

Pasal  65

Pada satu kelompok sistem alarm kebakaran tidak boleh dipasang lebih dari 40 (empat puluh) buah detektor panas.

Pasal  66

(1) Instatasi alarm kebakaran automatik yang menggunakan detektor panas jenis ini harus memiliki  elemen  lebur  yang  panjangnya  tidak  melebihi  3  (tiga)  m.  Pemasangan detektor jenis ini tersebut harus ditempatkan sepanjang ruangan yang harus dilindungi dan jarak antara detektor satu dengan lainnya tidak lebih dari 3 (tiga) m serta jarak dari dinding tidak lebih dari 1 ½ (satu setengah) m.

(2) Pemasangan detektor jenis ini harus disusun sedemikian rupa sehingga untuk suatu panjang tertentu tidak terdapat lebih dari tiga perubahan arah.

(3) Alat  hubung  detektor  jenis  ini  harus  ditempatkan  pada  tingkat  bangunan  yang bersangkutan  serta berada dalam peti kedap  debu dan terhubung  dengan  indikator secara listrik.

(4) Suatu bangunan dengan atap yang berpuncak memajang harus ada detektor jenis ini dengan elemen lebur sepanjang puncak memanjangnya. Apabila jajaran puncak memanjangnya  melebihi  4,5  (empat  lima  per  sepuluh)  m  dari  sesamanya  harus dipasang deretan elemen lebur.

(5) Pengawatan ini harus dilindungi dari kerusakan secara mekanik.

BAB  IV

SISTEM DETEKSI ASAP

Pasal  67

Detektor asap harus dapat bekerja baik dan kepekaannya tidak terpengaruh oleh variasi tegangan  yang bergerak  dalam batas  kurang  atau lebih 10 (sepuluh)  % dari tegangan nominalnya.

Pasal  68

(1) Bila detektor asap dipasang secara terbenam, maka alas dari elemen penginderaannya harus berada sekurang-kurangnya 40 (empat puluh) mm di bawah permukaan langit- langit.

(2) Dalam menentukan letak detektor asap harus memperhatikan hal-hat sebagai berikut:

a.   bila detektor asap dipasang dalam saluran udara yang mengalir dengan kecepatan lebih  dari  1  (satu)  m  perdetik  perlu  dilengkapi  dengan  alat  penangkap  asap (sampling device).

b.   bila disuatu tempat dekat langit-langit atau atap dimungkinkan dapat timbul suhu tinggi, maka detektor perlu diletakan jauh di bawah langit-langit atau atap tersebut agar detektor dapat bereaksi sedini mungkin.

c.   apabila detektor asap dipasang dekat dengan saluran udara atau dalam ruang ber- air  conditioning   harus  diperhitungkan   pengaruh   aliran  udara  serta  gerakan asapnya.

Pasal  69

Pemasangan detektor asap harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a.   untuk  setiap  92  (sembilan  puluh  dua)  m2   luas  lantai  harus  dipasang  sekurang- kurangnya satu detektor asap atau satu alat penangkap asap.

b.   gerak antar detektor asap atau alat penangkap asap tidak boleh melebihi dari 12 (dua belas) m dalam ruangan biasa dan 18 (delapan belas) m di dalam koridor.

c.   jarak dan titik pusat detektor asap atau alat penangkap asap yang terdekat ke dinding atau pemisah tidak boleh melebihi dari 6 (enam) m dalam ruangan biasa dan 12 (dua belas) m di dalam karidor.

Pasal  70

(1) Dalam ruangan tersembunyi yang tingginya tidak melebihi 2 (dua) m dan penyebaran asap kesamping  tidak terhalang  oleh gelagar  yang  menjorok  ke bawah  sampai  50 (lima puluh) % dari tingginya, sekurang-kurangnya harus dipasang satu detektor asap untuk setiap 184 (seratus delapan puluh empat) m2  luas lantai. Jarak antar detektor asap tidak melebihi dari 18 (delapan belas) m dan jarak dari dinding atau pemisah ke detektor terdekat tidak boleh melebihi dari 12 (dua belas) m.

(2) Bila  gelagar  yang  menjorok  ke  bawah  sebagaimana  dimaksud  dalam  ayat  (1) melampaui  50 (lima puluh)  % tetapi tidak melebihi  75 (tujuh puluh  lima) % dari tingginya  ruangan tersebut harus dipasang sekurang-kurangnya  satu detektor untuk setiap 92 (sembilan puluh dua) m2 luas lantai.

(3) Bila  gelagar  yang  menjorok  ke bawah  sebagaimana  dimaksud  dalam  ayat  (1) melampaui 75 (tujuh puluh lima) % dari tingginya ruangan tersebut, maka setiap bagian ruangan harus dilindungi secara tersendiri.

(4) Bila  detektor  asap  dipasang  dipuncak  lekukan  atau  ruangan  tersembunyi,  maka jarak antar detektor asap dalam arah memanjang tidak boleh lebih dari 18 (delapan belas) m.

(5) Bila atap ruangan tersembunyi sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) miring, maka deretan detektor asap yang terbawah terletak paling jauh 6 (enam) m secara horizontal terhitung dari suatu titik yang mempunyai jarak vertikal dari permukaan langit-langit sebelah atas dengan permukaan sebelah bawah atap sejauh 80 (delapan puluh) cm, kemudian  jarak  deretan  detektor  horizontal  berikutnya  harus  12  (dua  belas)  m, sedangkan jarak arah memanjang dapat dilakukan sampai 30 (tiga puluh) m.

Pasal  71

Bila ruangan tersembunyi terbagi-bagi sehingga mempengaruhi kelancaran aliran udara, maka harus dipasang detektor sedemikian rupa untuk menjamin pendeteksian dini.

Pasal  72

Setiap kelompok alarm kebakaran harus dibatasi sampai 2 (dua puluh) buah detektor asap dan dapat melindungi ruangan tidak lebih dari 2000 (dua ribu) m2 luas lantai. Jika dipakai sistem alat penangkap asap, maka tidak boleh dipasang lebih dari 12 (dua belas) buah alat penangkap  asap  dengan  satu  elemen  pengindera.  Sistem  ini  dianggap  sebagai  satu kelompok alarm kebakaran.

Pasal  73

(1) Berkas sinar yang membentuk bagian suatu sistem dari detektor asap jenis optik harus dilindungi terhadap timbulnya alarm palsu.

(2) Elemen  peka cahaya  detektor  asap jenis optik harus  ditempatkan  sedemikian  rupa atau diberi perisai, sehingga bila ada sinar dari manapun datangnya selain dari sumber yang dikehendaki tidak mempunyai pengaruh terhadap bekerjanya detektor.

(3) Bila detektor asap jenis optik memiliki sistem monitor terhadap sumber cahaya secara menerus,  maka  sumber  cahaya  itu  harus  diganti  dengan  yang  baru,  sekurang- kurangnya sekali setahun.

Pasal  74

(1) Desain  sistem alat penangkap  asap harus sedemikian  rupa sehingga  bila asap me- masuki titik tangkap yang terjauh untuk mencapai elemen penginderaan harus dapat dicapai dalam waktu 80 (delapan puluh) detik.

(2) Penyusunan  sistem  alat  penangkap  sebagaimana  dimaksud  dalam  ayat  (1)  harus sedemikian  rupa  sehingga  kecepatan  aliran  udara  ke  setiap  titik  tangkap  perbe- daannya tidak boleh lebih besar atau lebih kecil 10 (sepuluh) % dari kecepatan rata- rata dan kegagalan aliran dari titik tangkap dapat menimbulkan gangguan pada alarm.

Pasal  75

Pada sistem alat penangkap asap harus tersedia dua kipas angin, satu digerakan oleh arus listrik dari sumber utama dan yang satu dari baterai akimulator,  atau hanya satu kipas angin yang digerakan oleh arus listrik dari sumber utama dengan satu sakelar pemindah automatik kebateraian akimulator.

Pasal  76

Setiap titik tangkap harus dapat menyalurkan  udara yang ditangkap langsung kebagian penginderaan detektornya sebelum udara itu bercampur dengan udara daerah lain.

BAB  V

SISTEM DETEKTOR API (FLAME DETECTOR)

Pasal  77

(1) Detektor  nyala  api harus  mempunyai  sifat yang stabil  dan kepekaannya  tidak ter- pengaruh oleh adanya perubahan tegangan dalam batas kurang atau lebih 10 (sepuluh) % dari tegangan nominalnya.

(2) Kepekaan   dan   kestabilan   detektor   nyala   api  harus   sedemikian   rupa   sehingga bekerjanya tidak terganggu oleh adanya cahaya dan radiasi yang berlebihan atau ada- nya perubahan suhu dari 0o (nol derajat) C sampai 65o (enam puluh lima derajat) C.

Pasal  78

Satu kelompok alarm kebakaran harus dibatasi sampai dengan 20 (dua puluh) detektor nyala api untuk melindungi secara baik ruangan maksimum 2000 (dua ribu) m2 luas lantai kecuali  terhadap  ruangan  yang  luas  tanpa  sekat,  maka  atas  persetujuan  Direktur  atau pejabat yang ditunjuknya dapat diperluas lebih dari 2000 (dua ribu) m2 luas lantai.

Pasal  79

Detektor nyala api yang dipasang di luar ruangan (udara terbuka) harus terbuat dari bahan yang  tahan  cuaca  atau  tidak  mudah  berkarat  dan  pemasangannya  harus  sedemikian sehingga tidak mudah bergerak karena pengaruh angin, getaran atau sejenisnya.

Pasal  80

Pemasangan detektor nyala api dalam gardu listrik atau daerah lain yang sering mendapat sambaran  petir,  harus  dilindungi  sedemikian  rupa  sehingga  tidak  menimbulkan  alarm palsu.

BAB  VI

KETENTUAN LAIN-LAIN

Pasal  81

Instalasi Alarm Kebakaran Automatik yang sudah digunakan sebelum Peraturan ini di- tetapkan, Pengurus wajib memenuhi ketentuan Peraturan Menteri ini dalam waktu 2 (dua) tahun sejak berlakunya Peraturan Menteri ini.

Pasal  82

Pengurus   wajib   melaksanakan   untuk   ditaatinya   semua   ketentuan   dalam  Peraturan Menteri ini.

BAB  VII

KETENTUAN PIDANA

Pasal  83

(1) Pengurus  yang  tidak  mentaati  ketentuan  Pasal  82  diancam  hukuman  kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) sesuai dengan Pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-undang  No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

(2) Tindak Pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pelanggaran.

BAB  VIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal  84

Pemasangan  Instalasi Alarm Kebakaran Automatik yang belum diatur dalam Peraturan Menteri ini dapat dilakukan setelah mendapat ijin dari Direktur.

Pasal  85

Pegawai   Pengawas   dan  Ahli  Keselamatan   Kerja  melakukan   pengawasan   terhadap ditaatinya Peraturan Menteri ini.

Pasal  86

Hal-hal yang memerlukan  pedoman  pelaksanaan  dari Peraturan  Menteri  ini ditetapkan lebih lanjut oleh direktur.

Pasal  87

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan  di Jakarta

Pada tanggal 10 Agustus 1983

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA

ttd.

SUDOMO

Kami Butuh Bantuanmu

JIka ada kesalahan dalam penulisan lainnya silakan hubungi kami

Share This Post

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on email

Yang lainnya